Senin, 15 September 2014

Kos Kosan

Saya ini anggun kalo kata temen-temen saya. Bukan, bukan anggun yang eksotis dan jadi juri kontes nyanyi. Anggun = Anak (ng)Gunung. Iya, rumah saya di kaki gunung, dan as a consequence, demi melanjutkan mimpi, sebagian besar hidup saya dihabiskan bukan di tempat lahir saya (di kaki gunung). Semenjak saya menginjak bangku SMA (dih nggak sopan ya, berdiri di bangku) saya harus tinggal di rumah induk semang alias kos kosan. Kehidupan kos kosan berlanjut hingga saya kuliah dan bekerja di kota besar. Dan demi menjawab tantangan arisan blogging, yang baru saja saya dikonfirmasi menjadi bagiannya, saya harus menulis artikel dengan tema “horor.” Kebetulan ada kejadian horor yang menyambangi saya di kos kosan. Begini ceritanya (ah jadi inget acara hantu-hantuan itu…Kismis…Kisah Misteri).

Kos kosan saya adalah sebuah ruko (rumah toko) berlantai tiga yang berada di Jakarta Pusat. Ini kos kosan kedua saya selama di Jakarta. Saat saya pindah ke kos kosan ini, penghuninya hanya ada beberapa, mungkin kos kosan ini baru dibuka. Kamar saya ada di ujung koridor di lantai dua, saling berhadapan dengan kamar temen kuliah saya dulu yang kebetulan juga bekerja di tempat yang sama dengan saya. Sebetulnya saya sudah mendengar beberapa cerita seram mengenai kos kosan ini dari beberapa penghuninya, namun (waktu itu) saya belum dikaruniai kesempatan untuk mengalaminya langsung. Hingga pada suatu malam (ini pas banget kalo diisi sama sound effect ala horor….jenggg jeeenggg!!!) saya sedang bermain PlayStation sendirian di dalam kamar, waktu itu sekitar pukul 02.00 pagi. Di tengah asyiknya saya memainkan batang kenikmatan (joy stick), samar-samar saya mendengar suara langkah kaki di koridor depan kamar saya. Bukan langkah kaki juga sih, lebih seperti kaki yang diseret …. Sreeek…sreeek..sreek..gitu. Ah mungkin temen saya (yang kamarnya di depan kamar saya) habis dari toilet, pikir saya. Suara seretan kaki itu berhenti di depan kamar saya, ya karena kamar saya berada mentok di ujung koridor. Saya tunggu beberapa lama untuk mendengar suara orang membuka pintu, soalnya saya masih berpikir itu suara langkah kaki temen saya. Namun, nggak ada suara apapun. Dan kemudian….. tengkuk saya terasa tebal, bulu kuduk saya meremang. Ini pertama kalinya saya merasakan sensasi bulu kuduk meremang, eh nggak ding kalo pas pipis juga kadang bulu kuduk juga meremang ya…etapi beda sih sensasinya (apa dah). Kalo kata orang sih, salah satu tanda kehadiran mahluk halus adalah bulu kuduk meremang.  Tapi saya nggak tau waktu itu beneran ada mahluk halus apa yang nyamperin ke kamar saya, soalnya saya langsung ketakutan dan membesarkan volume televisi kemudian melanjutkan main PlayStation sampai pagi hehehe.

Esoknya, saya tanya temen saya yang kamarnya berhadapan dengan kamar saya, ternyata dia juga mendengar suara srek srek itu. Hiiiyyyy. Sejauh ini, that was the closest thing to me to that makhluk halus thingy. Nggak serem ya? 

Sebenernya cerita horror di kos kosan itu masih banyak sih, tapi bukan saya yang mengalami. Beberapa temen kos kosan ada yang pernah “dikasih lihat” nenek-nenek gendong anak, padahal nggak ada nenek-nenek yang ngekos di situ. Bahkan ada yang ngaku kalau pintu kamarnya pernah diketok tengah malam, pas dibuka…jreeenggg…ada pocong di depan pintu. Sebenernya saya agak nggak percaya sama cerita itu, lha gimana si pocong mau ngetok pintu kalo kostumnya gitu, tangannya kan diiket ya hehehe. Tapi saya betah sih di kosan itu, walaupun ada hantunya, tapi ada juga nilai plusnya. Di situ, salah satu anggota girlband cherrybelle pernah ngekos, mayan pemandangan hehehe.  

Minggu, 24 Agustus 2014

Sebwah Usaha Saya Memberikan Informesyen Agar Supaya Terlihat Serius dan Berguna

“pernah ke DWP gak lo?”
“pernah dong, goks banget dah. Lo harus banget dateng deh pokoknya!”

Pernah denger percakapan seperti, atau mirip mirip, di atas? Nggak? – sama! Hehehehe. Saya pun tau apa itu DWP setelah berkonsultasi dengan mbah gugel. Oke , poin saya bukan di DWP sih sebenernya, tapi di kata “goks.” Tau nggak artinya “goks?” – nanya mulu kaya agen NCIS! Hehehe. “Goks” itu adalah kata lain dari “gokil,” nggak tau “gokil” juga? Emang sih kata ini nggak ada di KBBI. Oke, menurut Agata (Anak Gaul Jakarta) “gokil” itu kira-kira artinya adalah sesuatu yang gila, luar biasa, di luar batas, tapi in a positive sense. Dan, saya pun sebenernya gak mau ngomongin kata “gokil” sih – Lha terus ngopo dijelaske mau eh? Hehehehehe.

Jadi sebenernya saya itu tertarik sama fenomena (((FENOMENA))) kok bisa “gokil” berubah menjadi “goks?” Dan ternyata ada juga kata-kata lain yang mengalami perubahan macam si gokil ini. Contohnya? Oke -> oks, sebatang -> sebats. Saya jadi tertarik, ini fenomena linguistik apa yang terjadi di sini? Eh setelah konsul dim bah gugel, seperti biasa, ternyata ada lho…. Namanya apocope – Ru, Haru, semuamuanya kok kamu cari di gugel, pas dulu kuliah sastra kamu ngapain aja eh?. Hehehehe.

Apocope itu adalah fenomena linguistik di mana suatu kata dihilangkan salah satu hurufnya (vowel), atau suku katanya. Oh iya, huruf atau suku kata yang hilang itu adalah yang berada di akhir kata itu. Jadi apa sebab terjadinya apocope? Saya juga gak ngerti. Mungkin kalau dalam kasus “goks” atau “oks” tujuannya ya biar terdengar atau terlihat keren dan mutakhir? Mungkin. Mutakhir karena ya kata-katanya jadi lebih ringkas dan sederhana, dan yang mutakhir itu biasanya membuat semuanya jadi lebih sederhana dan ringkas bukan? Bukan ya? Ya udah si. L  eh bentar-bentar, ada yang menarik. Di paragraf ini saya juga menggunakan fenomena kebalikan dari apocope, yaitu aphaeresis. Kalau apocope yang hilang itu huruf/suku kata terakhir, di aphaeresis yang hilang adalah huruf/suku kata awal. Coba tunjukin contohnya! “ya” asalnya dari “iya,” “gak” asalnya dari “nggak,” “ngerti” asalnya dari “mengerti,” dan “bentar” yang tadinya “sebentar.”

Tapi tenang aja – dude, I just used another aphaeresis there, nggak tau apa itu apocope atau aphaeresis nggak bikin hidupmu susah kok.  Pas wawancara kerja nggak ada yang nanya kalian tau apocope atau aphaeresis atau nggak apalagi di akherat, nggak ditanya macam itu lah. hehehehe. Lha terus kenapa saya bikin post ini? Ya biar kesannya berguna dan memberikan informasi gitu deh. Mmmm nggak berguna juga ya? ywdc.... :(

Rabu, 02 Juli 2014

Iseng menerjemahkan "Meeting at Night" Robert Browning

Puisi Meeting at Night karya Robert Browning adalah salah satu dari beberapa puisi favorit saya. Puisi ini selalu mengingatkan saya pada dosen saya dahulu di kampus, Pak Abu. Beliau waktu itu ngajar mata kuliah Poetry kalo nggak salah, dan puisi  Meeting at Night ini yang diceritakan Beliau, yang kemudian dihubung-hubungkan ke cerita waktu dia ngapel ke rumah pacarnya, yang sekarang jadi istrinya, naik motor pagi pagi buta.

Berhubung saya lagi ingin bernostalgia dengan segala berbau sastra, saya coba iseng untuk nerjemahin puisi Meeting at Night ini. 

Ini terjemahan saya:


Pertemuan Malam
Oleh: Robert Browning

I
Laut kelabu dan pulau yang pekat;
Dan kuning bulan separuh, besar dan rendah;
Dan ombak kecil yang terkesiap
bergulung terjaga  dari lelap
Perahu sampai di teluk darat,
Semakin pelan dihambat pasir basah.

II
Terbentang satu mil pantai beraroma hangat samudera;
Tiga petak ladang hingga sampai ke sebuah perternakan;
Sebuah ketukan di jendela, dan geretan setelahnya
Dan percik dari korek api, membiru nyala,
Dan sebuah suara yang tak lebih keras, dalam kesukaan dan ketakutan
daripada debar jantung kita berdua!


Ini puisi aslinya:

Meeting at Night
By: Robert Browning

I
The grey sea and the long black land;
And the yellow half-moon large and low;
and the startled little waves that leap
In fiery ringlets from their sleep,
As I gain the cove with pushing prow,
And quench its speed i' the slushy sand.

II
Then a mile of warm sea-scented beach;
Three fields to cross till a farm appears;
A tap at the pane, the quick sharp scratch 
And blue spurt of a lighted match,
And a voice less loud, thro' its joys and fears,
Than the two hearts beating each to each!


Terjemahan saya terjemahan bebas, jadi pasti banyak yang nggak pas hehehe. Feel free to comment. :))


Thanks,
Haru



Kamis, 13 Februari 2014

13 Februari, besok Valentine Day

Berhubung ini tanggal 13 Februari, dan besok itu hari valentine, di sini saya tidak akan nulis tentang itu (uopoooo maksuteeee).


Sudah lama banget rasanya nggak nulis di blog ini. Seingat saya di awal tahun 2012 saya janji bakal sering nulis. Yah, memang lidah tak bertulang, janji tinggal janji, tahun 2013 saya cuman nulis tiga posts, nggak kurang. Eh tapi saya juga nulis janjinya gak pake lidah sih. 

Kalau boleh saya highlight (ya emang siapa yang nggak ngebolehin sih...) ada beberapa kejadian menarik di 2013.

1. Konser JKT48

Ah tentang konser ini saya pernah nulis deh. cekidot di post sebelum ini gans. :P

2. You'll Never Walk Alone

20 Juli 2013, hari bersejarah buat para fans klub sepakbola Liverpool FC. Klub yang berasal dari kotanya The Beatles ini dijadwalkan melakukan pertandingan persahabatan di Stadion Gelora Bung Karno Jakarta melawan Tim Nasional Indonesia. Saya, dari awal tahun, sudah mempersiapkan mental dan material buat nonton pertandingan itu. Yah, sebagai supporter LFC (walaupun karbitan.....mangga kali dikarbit) saya juga punya hak menonton  dong. Jadi bebarapa bulan sebelum hari H saya sudah memegang tiket untuk menonton LFC, tapi saya nggak ngajak istri, soalnya dia sedang mengandung dan kayaknya istri bakalan nggak suka, bukan karena dia nggak suka sepakbola atau LFC, tapi dia nggak suka asap rokok. Saya membayangkan bakalan banyak asap rokok nanti, tapi ternyata enggak juga sih, yang ada cuman asap dari flare dan kembang api.

Baju LFC merah sudah siap, tiket di tangan, saya pun berangkat ke GBK bareng adik sepupu dan temen sesama supporter LFC. Pertandingannya sih, kalau boleh dibilang, agak membosankan. Liverpool "cuma" menang 2 - 0 atas Indonesia XI berkat sumbangan gol Coutinho (dia waktu masih di Inter Milan juga ngegolin ke gawang Indonesia), dan Raheem Sterling. Yang bikin saya takjub justru antusiasme dari supporter LFC yang datang ke GBK. Tidak terhitung berapa flare yang dibakar, spanduk, bendera yang dikibarkan, chants yang dinyanyikan sepanjang pertandingan (saya sih mangap mangap aja kaya orang bego, maklum karbitan nggak hapal chants). Sampai-sampai supporter LFC dari luar negeri pun memuji. Yah, walaupun ada yang nyinyir, kok dukungnya tim luar negeri, nggak dukung tim Indonesia. Iya ya, kenapa? ya udah mari kita tanya pada Inul yang bergoyang (uoopooo meneeeh). Overall, saya lebih menikmati atmosfir pertandingannya daripada pertandingan itu sendiri, seru, kaya di Anfield (emang pernah ke sana Ru? // eermmm ya katanya sih) dan bisa lihat langsung pemain yang biasanya cuman lihat di tivi (komentar standar hehehe).

Ini Pasti Lagi Nyanyi "Kowe Ora Bakal Mlaku Dhewekan"

Om Gerrard kuciwa bolanya direbut...bukan, bukan bola yang pake tanda petik
JFT96


Ini foto ucapan terimakasih dari LFC 


  





















































3. SoNyeo ShiDae Tour

Saya ingat, pertamakali saya tau bakal ada konser SoShi di Jakarta itu pas di eskalator Atrium Senen, lagi jalan-jalan sama istri. Kaget, seneng, takut (....gak diijinin istri heuheuheu). Yah bener kan dugaan saya, istri tidak merestui, tapi apa mau dikata, sebagai Sone saya nggak mau menyerah membela panji-panji pink SoNyeo ShiDae (hadeeeeh). Sempet perang dingin, sampe saya pergi main futsal pun sambil tetep dongkol. Istri nggak setuju kalau saya ngabisin duit segitu buat nonton SoShi, tapi saya keukeuh, soalnya bisa jadi itu satu-satunya konser tunggal SoShi di Jakarta, dan saya tidak mau melewatkannya. Dan setelah perdebatan panjang dan lebar, istri saya mau mengalah, saya pun malah minjem kartu kreditnya buat beli tiket (tegel kowe mas...tegel.....). Terimakasih banyak yah Yeobo hehehehe. 

Sabtu pagi, 14 September 2013, saya masih main futsal, kebetulan ada turnamen futsal kantor. Untung deh tim saya kalah dan nggak masuk putaran final, kalau enggak mah saya nggak sempet nonton SoShi deh hehehehe. Sabtu sore, dengan baju hitam bertuliskan "Gee Gee Gee Baby Baby Baby" dan celana doreng yang dikasih sama mertua saya naik ojek menuju Ancol. Dan ternyata masuk Ancol kan harus bayar ya, terpaksa deh saya bayarin itu abang tukang ojek tiket masuk ke kawasan Ancol. Sabtu sore main ke Ancol, nraktir abang tukang ojek. Romantis. Sampe di venue, udah rame aja. Tanpa pikir panjang, besar, kencang, dan tahan lama (opo meneeeeh) saya langsung deh ikut antrian masuk yang sudah mengular itu. Di sekeliling saya isinya anak muda, mbak-mbak, adek-adek, mas-mas, ibu-ibu yang nganterin anaknya, dan cuman saya kayaknya yang cengo datengnya sendirian. Dan pas ngantri, ada serombongan adek-adek abegeh yang nanya saya "Om, antri tiket Festival B di sini ya?"
(((OM)))
(((OM)))
(((OM)))
APA KAMU BILANG HEEEEH????? 
Kenyataan memang pedih jenderalllllll....... -_____-

I am not gonna tell you about the concert, because that was a hell of three fvckin hours with sweat, noise, and joy......... and admiration. Setelah keluar dari gedung konser, saya kaya habis shooting film India di adegan hujan-hujanan. Dengan kata lain, saya basah kuyup, oleh keringat. Walhasil, daripada nanti diusir dari TransJakarta karena bau keringat, akhirnya saya beli kaos pink...saya ulangi kaos pink, dan topi yang cuman saya pakai kalau lagi ngeledekin istri saya. Perlu diketahui, istri saya benci banget kalau saya pakai topi itu, kaya alay katanya hehehehehe.
4. Welcome, Gerradishti

Hari Perkiraan Lahir anak saya kata dokter jatuh pada 29 September 2014, menjelang hari tersebut saya deg-deg an....biasa lah sindrom mau jadi orang tua, yaaa sebenernya juga deg-deg an, anak saya ini lahirnya bakal sebelum, sesudah, atau bahkan bareng sama Konser Soshi, bisa berabe kan? hehehehehe. Sebagai tindakan preventif, saya minta Ibu dan Bapak saya dateng seminggu sebelum HPL anak saya, ya pokoknya sebelum konser SoShi deh hihihihihi Maap ya Pak Buk.... :P. Ternyata si jabang bayi, nongol lebih cepat dari HPL yang diperkirakan, 2 hari lebih cepat.

Waktu itu malam Jumat, saya masih sempet main futsal dulu hehehehe. Dini hari, sekitar pukul 2, istri saya membangunkan saya, mules katanya. Waktu itu di rumah sudah ada Bapak, Ibu, Bapak Mertua, Ibu Mertua, dan keluarga Tante istri saya. Sekitar jam 3 atau 4 akhirnya diputuskan bahwa istri saya harus segera dibawa ke Rumah Sakit karena sudah mengeluarkan darah. Segeralah saya cari taksi, dan macam di adegan sinetron, saya bilang ke abang taksi "Bang tolong cepetan ya, istri saya mau melahirkan" (nggak tau deh waktu itu sempet ada adegan zoom in zoom out ke muka abang taksi nya apa nggak). 

Sampai di Rumah Sakit, langsung deh istri saya dibawa ke kamar dan diperiksa, ternyata baru bukaan 1, yang mana masih ada sekitar 9 bukaan lagi untuk melahirkan (untuk calon bapak dan yang lagi nyari calon ibu buat anak-anaknya, kalau nggak tau istilah bukaan, monggo tanya mbah gugel hehehe). Kata susternya, ditunggu sampai jam 12 siang deh, dan habis itu dicek lagi sudah di bukaan berapa. Enam jam lebih ditunggu, ternyata masih baru bukaan 2, istri saya mulai ngeper, katanya bukaan 2 udah sakit gitu, gimana bukaan 9. Dokter akhirnya nawarin untuk nunggu di Rumah Sakit atau pulang ke rumah saja kalau rumahnya deket. Istri saya milih pulang saja, soalnya dia merasa terintimidasi sama pasien lain yang teriak-teriak kesakitan di sampingnya. 

Sesampainya di rumah, menurut Ibu saya, dan Ibu Mertua, istri saya disuruh banyak bergerak, banyak jalan, biar bukaannya cepet nambah. Ya jadilah istri saya mondar mandir sambil meringis sakit dan megangin pinggangnya. Sekitar pukul 7 malam, pendarahan istri saya mulai banyak, dan akhrinya diputuskan untuk segera sowan ke Rumah Sakit. Lagi, saya nyari taksi, dan adegan ala sinetron tadi pagi terulang. Sampai di Rumah Sakit, kata suster "Ibu tahan banget ya, udah bukaan 7 lho Bu."

Akhirnya istri saya dimasukkan ke kamar tindakan, ditemani Ibunya. Sebelumnya, saya sudah ijin sama istri saya kalau saya nggak usah nemenin di dalam, takut pingsan kata saya hehehe. Tapi Ibu mertua bilang, kayanya istri saya kepengin ketemu, gitu, dan saya disuruh masuk ke dalam kamar tindakan. Tapi memang sih, coba kalau sya nggak nemenin istri, saya bakal melewatkan saat di mana istri saya terlihat awesome, keren, pokoknya istri saya bersinar cerah lah. Njung cahaya asia. Setelah ngeden, nyakar saya, jambak saya, sekitar 3 jam kemudian, alhamdulillah istri saya berhasil melahirkan dengan selamat. Bayi mungil perempuan itu menangis, keras sekali. Saya tertegun, "ini anak saya? saya punya anak?" waaaah magical. Tak lupa saya bisikkan kalimat adzan ke anak saya, ajain, saat saya adzan, tangis anak saya agak mereda dan dia menatap saya. Masya Allah. Habis itu ya dia nangis lagi hehehe.

Selama di Rumah Sakit, anak saya kan kadang dipisah sama ibunya, soalnya harus dimandiin dll. Dan pada saat anak saya lagi dibawa ke luar kamar, Bapak saya selalu gelisah, katanya "Nggak ketuker ya ntar anaknya?" Haduh Bapaaaak....kebanyakan nonton sinetron ya? Tenang aja pak, saya sudah ngasih anak saya liontin yang kembar dengan liontin ibunya, kalau tertukar kan besok gede bisa dicari lewat liontin yang sama dengan liontin ibunya pak. (Halah....iki yo korban sinetron).

Setelah saya jadi seorang bapak, ada sebuah pertanyaan yang ditanyakan oleh temen saya, "Ru gimana rasanya jadi Bapak, ada yang berubah gak?" A good question indeed, yang waktu itu saya jawab sekenanya, sambil senyum gak jelas hehehehe. Iya saya belum bisa jawab, mungkin jam gendong dan jam begadangnya masih kurang sebagai bapak hehehe.  

First cry
 
Oh iya, nama anak saya Gerradishti Yuna Pragyapramatya, iya panjang ya, pasti nanya artinya kan? 
Dishti itu dari bahasa sansekerta artinya "pembawa keberuntungan," Yuna itu you know lah hehehe, eh selain itu artinya juga "good look," Pragya artinya kurang lebih sama dengan Prama yaitu "knowledge and wisdom." Jadi ya gabung sendiri deh hehehe. Biasanya komentar orang saat pertama kali dengar nama saya adalah "panjang banget," tapi komentar suster di Rumah Sakit agak beda "Pak, suka sama huruf Y ya?" saya bengong dan baru ngeh ternyata emang di nama anak saya banyak huruf Y hehehe.
  
5. First Wedding Anniversary

Setiap kali main ke tempat Tata Usaha di kantor, saya selalu ditanya "Mas, udah inget tanggal pernikahannya?" Ya, beberapa kali saya salah sebut tanggal pernikahan saya hehehe. Sebenernya saya orang yang malas mengingat tanggal, jadi ya sering lupa deh. Tapi, untuk hari peringatan pernikahan saya yang pertama, saya berusaha benar mengingatnya, demi kelangsungan tidur saya, agar nggak diusir suruh tidur di luar selama setahun penuh oleh istri saya, nggak boleh tidur di dalam kamar sebelum menghapal tanggal pernikahan kami. Hehehee iya iya, becanda kok. Tapi saya sudah berencana membuat kejutan, sederhana lah, beliin roti, ntar pas jam 00.00 pergantian hari, saya bangunin istri sambil bawa roti dengan lilin menyala dana mengucapkan "happy anniversary sayang." Saya sudah membayangkan muka istri saya yang sumringah dan malu malu tapi seneng ehehehe. Namun apa lacur, di hari H, saya malah lupa, dan saya menyadari bahwa hari itu hari peringatan pernikahan kami pada saat hari sudah malam, mana sempet beli roti. Akhirnya saya mendekati istri saya yang sedang menidurkan si Gerradishti, dan memeluk sambil membisikkan "Happy anniversary sayang" tapi juga sambil siap siap disemprot karena baru ngucapin malam itu. Tak disangka, istri saya kaget, dan ternyata dia yang lupa kalau hari itu adalah hari peringatan satu tahun usia pernikahan kami. Saya pura-pura agak kecewa, padahal ya di dalam hati "syukur..syukur...dia juga lupa, jadi saya nggak dimarahin" :)).

29 Oktober 2012, itu tanggal pernikahan saya dan istri. Iya, bener kok, kali ini saya nggak salah, barusan lihat di Facebook soalnya.

Jumat, 05 Juli 2013

May the Fourth be With You, You, You, and You all *nunjuk foto bonus dari beli album Heavy Rotation*

Beberapa hari yang lalu, temen kantor saya nanya “Ru, nih lu pilih yang mana?,” sambil nyodorin kertas bertuliskan nama kota dan tanggal. Saya agak loading sambil mikir, “apa nih.” Dan ternyata itu adalah jadwal diadakannya sebuah acara kantor saya di beberapa kota di luar Jawa . Setelah ngeh, saya liat lagi tanggal diadakan acara tersebut, saya terkesiap (tsaaahhh), ternyata tanggalnya itu tanggal 4 & 5 Juli. Saya langsung deh gak mau, kenapa coba? Iya, tanggal 4 itu kan Hari Kemerdekaan United States of America, dan Hari Kemenangan Manusia Bumi Melawan Alien menurut film Independence Day, lagian itu juga ngepasin sama tanggal konser JKT48. Jadi, dear kantor, maapin saya yah udah membangkang (dikit) heheheh tapi saya udah ada janji sama dedek-dedek unyu di Tennis Indoor, gimana dong :D.

Jadi yah, tanggal 4 Juli akhirnya datang juga. Sore itu saya ngacir langsung dari kantor, tenggo (teng langsung go) nebeng si Sasha, anak Forkem, naik motor deh mengarungi macetnya Jakarta di rush hour (jam 5 vroooh, jarang-jarang saya pulang kantor tepat waktu LOL). Singkat cerita, dengan pantat yang pegel, saya nyampe juga di Tennis Indoor Senayan, dapet duduk di row belakang (kalah sama ABG yang udah ngantri masuk dari sore, bahkan dari mulai show 2 selesai). Oya saya sama Sasha nonton show ke 3, dan di konser ini semua dapet tempat duduk, bahkan yang di bagian festival. Jauh sebelum nonton, si Sasha selalu ngingetin saya, “Ru, gimana, lu udah siap mental belom?,” saya sih nyengir-nyengir aja sambil bilang “emangnya mau sunatan apa, butuh siap mental”  (iya iya, saya sunatnya pas udah gede karena kelamaan nyiapin mental *confession bear meme.jpg*).

Pukul 7 lebih, konser dimulai, oh iya sebelum konser dimulai, para penonton yang pada bosen iseng bikin wave sambil melambai-lambaikan lightstick warna-warni (kayaknya salah satu item wajib buat dateng di konser-konser). Konser pun dimulai dengan opening (menurut anak-anak di yang duduk belakang saya, ada istilahnya sendiri, saya lupa hehe) si Nabilah, dengan R cedalnya, mengucapkan selamat datang dan menjelaskan peraturan-peraturan konser. Terus abis itu Team J (kalo gak salah) muncul dengan lagu…aduh saya lupa (iya maaf saya fans nubi gan :peace), pokoknya seru deh. Mereka kadang tampil bareng-bareng (51 orang, gabungan gen 1 dan gen 2), kadang dibagi dalam tim (tim J, tim KIII), dan kadang cuma beberapa orang aja (yang menurut yang dibisikin oleh si Sasha ke saya, namanya unit song).  Saya sebagai nubi, menikmati konser dengan mengangguk-angguk ngikutin musiknya aja, sementara fans-fans lain pada teriak chant dalam bahasa Jepang sembari melambai-lambaikan lightstick sesuai dengan peraturan yang berlaku (halah…apa dah). Etapi bener lho, gerakannya melambaikan lightstick semua seragam, ada kaya koreonya gitu deh. Tapi dibanding fans K-pop yang nge-chants berbeda-beda tergantung lagu, chants para fans JKT48 ini kalo saya denger ya sama untuk beberapa lagu (bukan ngadu fans K-pop sama fans JKT48 lhoh ini, sumpah dah hehehe)

Walaupun fans nubi, gini-gini saya juga agak hapal dengan para anggota-anggota JKT48 lho *naikin kerah, muter jambul ala lupus*. Ada Beby yang dance-nya niat banget sampe kelihatan dia keringetnya paling banyak. Ada Ghaida yang tomboy abis, Kinal yang keren, Shanju yang kelihatan pro dengan berbagai macam ekspresinya, Cigul yang lucu dan minta dikarungin, Haruka si Jepang yang centil dan rame, Ve yang badai dan kharismatik, dan lain-lain lah, banyak. Karena mereka masih anak-anak remaja, dan mungkin juga karena lagu-lagu yang ceria, jadi suasana konsernya terkesan fun. Para anggota JKT48 juga kelihatan seneng, walaupun dalam dua hari ini mereka mengadakan 3 konser yang durasinya sekitar 2,5 jam per konser. Untuk selingan, dan mungkin ngasih waktu mereka istirahat, di sela-sela lagu, ada sesi ngobrol nya, dan games. Pokoknya seru deh itu konsernya, walaupun pas udah mau bubaran dan penonton pada teriak-teriak minta encore, penonton di belakang saya terlalu bersemangat teriak sampe muncrat ke saya -____-. Overall, the show was very fun, nggak nyesel deh nontonnya.

2,5 jam terasa sebentar, dan saya harus pulang deh, balik ke kos dan membayar penalty kepada istri saya karena nonton konser ini: mijitin dia 5 jam huahahahaha *ketawa pedih*. Oh iya, di jalan pulang, si Sasha cerita bahwa salah satu anggota JKT48, Rena Nozawa, yang dipindah ke AKB48 di Jepang sana itu anak seorang wartawan, kontributor salah satu koran Jepang di Indonesia. Dan setelah saya inget-inget, saya sering berkirim email atau undangan acara kantor dengan wartawan asing di Indonesia, dan salah satunya ada yang bernama Koji Nozawa. Damn, coba saya tahu lebih cepat, sekarang si wartawan udah dipindah ke Jepang deh. Setelah pernah satu kosan dengan salah satu anggota Cherrybelle dan keluarganya, ternyata saya juga sering email-email-an dengan ayah dari salah satu anggota JKT48 (terus kenapa Ru?).


PS: Tapi walaupun terhibur sama dedek-dedek unyu itu, gak ada yang ngalahin saat pulang ke rumah dan bisa peluk istri dan calon dedek di perut dengan hangat. Terimakasih ya Yeobo, dedek, belajar yang pinter ya, besok gede biar bisa jadi idol grup *lhah.*

Selasa, 30 April 2013

Apa Sih Mimpi Kamu?


What is your ambition?
What is your dream?
Pasti sering, atau paling nggak, pernah ditanya pertanyaan seperti ini kan? Entah saat di kelas, saat melamar pekerjaan, saat diwawancara, ataupun saat ketemu sama kakak kelas yang pengen ngajak kamu kamu jadi downline  MLM dia. Kemarin pas saya ikut diklat, pertanyaan itu muncul. Jawaban yang diutarakan teman-teman saya beragam namun anehnya terdapat pola yang agak bisa ditebak. Ibu-ibu mayoritas menjawab “menjadi ibu yang baik,” bapak-bapak jawabannya “jadi sukses dalam pekerjaan,” para cewek-cewek dan cowok-cowok yang belum menikah kebanyakan jawabannya “menjadi sukses.” Perlu diketahui, semua peserta diklat itu kolega di kantor saya, jadi semua sudah bekerja.
Buat saya, pertanyaan ini adalah salah satu pertanyaan yang sulit dijawab. Iya, “merencanakan” mungkin belum masuk ke dalam kamus istilah saya. Saya  selalu mengikuti arah, plin-plan, nggak suka berencana, go with the flow kata orang sih, (mungkin) karena takut “bertanggungjawab,” berkomitmen terhadap rencana yang sudah dibuat? Hhhmmmm mungkin.


NB: pengen tahu jawaban saya pas dikasih pertanyaan itu di diklat? Jawaban saya “pengen nonton Liverpool FC di Anfield Stadium” J

Rabu, 23 Januari 2013

kerisik daun bambu

kerisik daun bambu
jentik air hujan
bikin ingat kamu
yang di seberang lautan

matahari kita sama
tapi di sini nggak ada
hujan......

di sana nggak hujan?
semoga tuhan kasih hujan
biar kamu kangen aku

tapi kerisik daun bambu
itu privilese ku
di sana tak ada bukan?

Jakarta, 23 Januari 2013, ba'da ashar