Yang pertama adalah yang paling susah - ya, seperti mengawali tulisan ini. Namun, yang pertama biasanya membekas lama. In a good or bad way. Seperti orang-orang biasa lainnya, saya juga punya "saat pertama". Beberapa yang saya ingat antaranya:
1. Pertama kali naik pesawat
Dibesarkan sebagai orang Turki, alias Turunan Kidul (désa saya di bagian selatan Kabupatèn Pemalang), saya harus menempuh jarak cukup jauh untuk bersekolah, setidaknya saat SMP dan SMA. Semua itu membuat saya harus menggunakan bermacam moda transportasi untuk pergi ke sekolah; bus, mobil carry bukaan, dan kadang ojek. Mengenal kereta api pun saat kuliah. Naik pesawat terbang? Tak pernah sedikitpun terlintas di pikiran saya.
Dan kali pertama itu pun tiba. Saya, saat itu seorang CPNS, ditugasi untuk menjadi liaison officer untuk sebuah acara di Bali. Jadilah saya harus naik pesawat terbang dari Jakarta ke Bali. Saya ingat saat itu saya memilih berangkat ke bandara bersama sama dengan rekan kerja, karena saya nggak tau yang harus dilakukan saat mau naik pesawat terbang. Saya naik pesawat Lion Air waktu itu. Penerbangan pertama saya sungguh tidak enak. Sepanjang perjalanan kepala dan telinga saya sakit sekali. Belakangan saya tau itu disebabkan oleh tekanan udara. Kepala saya masih sakit saat mendarat di Ngurah Rai, dan hingga saya tidur.
2. Pertama kali berenang
Di desa saya ada sebuah dam kecil di sungai yang biasa digunakan anak anak untuk mandi. Untuk ukuran anak anak, dam itu cukup dalam. Saya yang tidak bisa berenang tak pernah berani bermain di situ. Paling saya cuma berani bermain di sungai sebelahnya yang kedalamannya hanya sebatas jidat saya, kalau saya tengkurap. Suatu hari saya diajak kakak sepupu saya untuk berlatih berenang di dam itu. Karena gengsi, akhirnya saya mau. Tapi di sana saya cuman pura pura kedinginan sambil nangkring di batu. Sampai kakak sepupu saya akhirnya mendorong saya sampai nyebur ke dam. Sejak saat itu saya tidak belajar berenang lagi.
Hingga pas kuliah, waktu itu hari Sabtu, jadi saya tidak ada kelas, teman sekosan mengajak berenang di kolam renang dekat pantai di Semarang sana. Sekali lagi, atas nama gengsi, saya menyanggupi. Namun ternyata, di kolam renang itulah saya menyadari bahwa saya bisa berenang. Sungguh, tiba tiba saya bisa ngambang dan bergerak maju, ya walau semeter dua meter. Dan di sana pula saya sadar saya bisa ngambang sambil terlentang. Nggak tau kenapa. Tapi saya syukuri saja.
Saat itu lah pertama kali saya tau bahwa saya agak bisa berenang dan juga sadar bahwa berenang seharian di bawah terik matahari bikin kulit hidung, pundak, dan punggung bisa terbakar dan sakitnya semingguan.
3. Pertama kali menikah
Kali pertama saya menikah, dan saya harap jadi kali yang terakhir.
Kamis, 05 Mei 2016
Senin, 18 April 2016
Meja dan Kepribadian
Setelah hiatus
selama beberapa waktu, akhirnya arisan nge-blog dimulai lagi. Artinya, saya punya
motivasi lagi untuk mencorat-coret halaman blog ini. Motivasinya ya biar nggak
disuruh traktir anggota arisan gara-gara tidak nulis di blog. Yah, kadang
materi, baik penambahan maupun pengurangan, memang motivasi yang cukup efektif
hehehe.
Kali ini tema arisannya adalah my workspace. Awalnya bingung juga
bagaimana mulainya. Tapi setelah menarik diri sejenak dari kehidupan fana
dengan bertapa dalam posisi bhujangasana
kemudian saya mendapat pencerahan dari Jai
Guru Deva mengenai hubungan antara workspace
(yang saya kerucutkan menjadi meja kerja)
dengan pribadi seseorang. Cekidot:
i.
Meja kerja yang tidak berantakan
Pemilik meja kerja yang tidak
berantakan adalah orang yang cenderung suka keteraturan. Mereka rapi dan runut
dalam menyimpan barang kepunyaannya. Biasanya, dalam keseharian, mereka tidak
suka sesuatu yang tidak rapi.
ii.
Meja kerja yang tidak rapi
Pemilik meja kerja ini adalah tipe orang yang tidak suka kehilangan waktu untuk menata mejanya. Mereka, secara sadar maupun tidak, akan menaruh barang di manapun dia suka. Orang dengan meja kerja yang tidak rapi kebanyakan memiliki prinsip ”meja aing kumaha aing.”
iii. Meja kerja dengan foto
Ada beberapa jenis foto, itu juga
menentukan pribadi si empunya meja. Saya tulis dua aja ya, ide nya mentok, eh
maksudnya si Jai Guru Deva baru kasih
pencerahan tentang dua jenis ini.
-
Foto keluarga
Dengan meja kerja yang berisi foto
keluarga, dapat dilihat bahwa pemiliknya merupakan orang yang tidak takut untuk
untuk melakukan komitmen dengan lawan jenisnya dalam menjalani kehidupannya
yang fana. Orang dengan meja kerja ini juga merupakan orang yang tidak takut
akan resiko memiliki mertua.
-
Foto artis/idola
Ini mah jomblo, kalau enggak ya om-om beristri
yang masih suka sama dedek dedek gemes tapi gak berani masang foto idolanya di
rumah.
iv.
Meja kerja berisi panci, mangkok, sendok, garpu,
ladle
Ya itu sih meja abang tukang bakso.
Selasa, 21 April 2015
Burung Bul-Bul dan Bunga
Mawar
“Dia bilang, dia baru
mau menari denganku kalau aku memberinya bunga mawar merah,” pekik Anak Sekolah
itu; “tapi di kebunku, tidak ada mawar yang berwarna merah.”
Dari dalam sarangnya
di Pohon Oak di seberang sungai, Burung Bul-Bul mendengarnya, dan di antara rimbun
dedaunan dia memerhatikannya, dengan rasa ingin tahu.
“Tidak ada mawar
merah di kebunku!” Anak Sekolah itu memekau, dan matanya yang indah dipenuhi air
mata. “Ah kawan, betapa kebahagian itu bergantung pada hal-hal kecil! Aku sudah
membaca semua tulisan orang-orang bijak, dan semua rahasia filsafat aku pun
tahu, namun betapa keinginan untuk setangkai mawar merah ini bisa merusak
hidupku.”
“Akhirnya, seseorang
dengan cinta yang tulus,” kata Burung Bul-Bul. “Setiap malam aku nyanyikan
pujian untuknya, walaupun aku tak mengenalnya; setiap malam kisahnya kuceritakan
kepada bintang-bintang, dan sekarang aku telah menemukannya. Rambutnya sepekat bunga
Hyacinthus orientalis yang sedang merekah,
dan bibirnya merah seumpama mawar yang diidamkannya; tapi, nafsu membuat
wajahnya sepucat gading, dan nestapa terukir di dahinya.
“Pangeran akan
berpesta besok malam,” sungut Anak Sekolah itu, “dan gadis impianku akan
datang. Jika aku bawakan dia mawar merah, dia akan mau menari denganku hingga
fajar. Jika aku bawakan dia mawar merah, aku akan dapat memeluknya, dan bersandarlah
kepalanya di pundakku, dan tangannya akan saling bertautan dengan tanganku. Tapi,
tidak ada mawar merah di kebunku, maka aku akan duduk di sana kesepian, dia
akan melewatiku. Dan dia tidak akan mengindahkanku, dan aku pasti akan patah
hati.”
“Dia adalah seorang
dengan cinta yang tulus,” kata Burung Bul-Bul. “Yang selama ini aku nyanyikan
adalah penderitaannya – bahagia untukku, nestapa untuknya. Cinta adalah hal
yang mengagumkan. Lebih berharga dari batu zamrud, lebih indah dari batu opal.
Mutiara dan delima tidak dapat membelinya, Cinta tidak dijual di pasar. Cinta
tidak bisa dibeli, bahkan tidak dapat dinilai dengan emas sekalipun.”
“Para pemusik akan
duduk di galeri,” Anak Sekolah itu berkata, “dan akan memainkan alat musiknya
yang bersenar, dan gadis pujaanku akan menari diiringi suara harpa dan biola.
Menarilah dia dengan ringan hingga kakinya melayang, dan seisi istana dengan
pakaian berwarna-warni akan mengerubutinya. Tapi denganku dia tidak mau menari,
karena aku tidak membawakannya mawar merah”; lalu dia menjatuhkan diri ke
rumput, dan membenamkan mukanya kedalam kedua telapak tangannya, dan dia
menangis.
“Kenapa dia
menangis?” tanya Kadal Hijau kecil, ketika dia, dengan buntutnya yang melambai-lambai,
berlari melewatinya.
“Iya, kenapa?” kata
seekor Kupu-Kupu, yang sedang terbang di bawah sinar matahari.
“Iya, kenapa?”
bisik bunga Daisy kepada setangganya, dengan suara yang lembut dan pelan.
“Dia menangis
karena sekuntum mawar merah,” kata Burung Bul-Bul
“Karena mawar
merah?” mereka berseru; “betapa konyolnya!” dan Kadal kecil, yang suka
mengolok, tergelak seketika.
Namun Burung
Bul-Bul memahami rahasia nestapa sang Anak Sekolah, dan dia diam bertengger di
pohon oak, sembari merenungi misteri Cinta.
Seketika dia merentangkan
sayap coklatnya kemudian terbang, dan membumbung tinggi ke udara. Dia terbang
di atas belukar bagai bayang-bayang, dan seperti bayang-bayang pula dia melayang
membelah kebun.
Di tengah
rerumputan, tumbuh sebuah Pohon Mawar yang cantik, dan ketika dia melihatnya,
dia terbang mendatanginya.
“Berikan aku mawar
merah,” pekiknya, “dan aku akan menyanyikan untukmu bait yang terindah.”
Tapi Pohon itu
menggeleng.
“Mawarku berwarna
putih,” jawabnya; “seputih buih di samudera, dan lebih putih dari salju di
puncak gunung. Tapi, pergilah ke tempat saudaraku yang tumbuh di sekeliling jam
matahari, mungkin dia akan memberikan apa yang engkau inginkan.”
Kemudian Burung
Bul-Bul melayang mendatangi Pohon Mawar yang tumbuh di sekeliling jam matahari.
“Berikan aku mawar
merah,” pekiknya, “dan aku akan menyanyikan untukmu bait yang terindah.”
Namun Pohon itu
menggeleng.
“Mawarku berwarna
kuning,” jawabnya; “sekuning rambut putri duyung yang duduk di singgasana batu
amber, dan lebih kuning dari bunga daffodil yang tumbuh di padang rumput
sebelum pemotong rumput datang dengan sabitnya. Tapi, datanglah ke tempat
saudaraku yang tumbuh di bawah jendela Anak Sekolah, mungkin dia akan memberi
apa yang engkau inginkan.”
Lalu Burung Bul-Bul
terbang mendatangi Pohon Mawar yang tumbuh di bawah jendela Anak Sekolah.
“Berikan aku mawar
merah,” pekiknya, “dan aku akan menyanyikan untukmu bait yang terindah.”
Namun Pohon itu
menggeleng.
“Mawarku berwarna
merah,” jawabnya, “semerah kaki merpati, dan lebih merah dari karang kipas yang
melambai-lambai di gua dasar lautan. Tapi, musim dingin telah membekukan
nadiku, dan embun beku merusak kuncup bungaku, dan badai telah mematahkan
tangkaiku, dan aku tidak punya mawar barang sekuntum sepanjang tahun ini.”
“Yang kupinta hanya
sekuntum mawar merah,” seru Burung
Bul-Bul, “hanya sekuntum mawar merah!
Apakah tidak ada cara lain agar aku bisa mendapatkannya?”
“Ada satu cara,”
jawab Pohon itu; “tapi cara ini sangatlah buruk sampai mengatakan kepadamu pun
aku tak sanggup.”
“Katakan padaku,”
kata Burung Bul-Bul, “aku tidak takut.”
“Jika engkau
menginginkan sekuntum mawar merah,” kata Pohon itu, “engkau harus
menciptakannya dengan nyanyian di bawah sinar rembulan, dan lumuri dengan darah
dari jantungmu. Engkau harus bernyanyi untukku sambil menacapkan dadamu ke
duriku. Sepanjang malam engkau harus tetap bernyanyi, dan duri itu harus
menembus jantungmu, dan darahmu harus mengalir ke dalam nadiku dan
menjadikannya milikku.”
“Kematian adalah
harga yang pantas untuk sekuntum mawar merah,” kata Burung Bul-Bul, “dan Kehidupan
ini sangat bernilai untuk semua kita. Sangatlah menyenangkan duduk di dalam
hutan yang hijau, dan melihat Matahari bertengger di atas kereta keemasannya,
dan Bulan di atas kereta mutiaranya. Aroma semak-semak yang wangi, aroma wangi bunga
bluebell yang bersembunyi di lembah, dan bunga heather yang bermekaran di atas
bukit. Tapi Cinta lebih baik daripada Kehidupan, dan apalah arti jantung seekor
burung dibanding hati seorang manusia?”
Dan lalu dia
membentangkan sayapnya dan terbang membumbung tinggi ke udara. Dia melayang di
atas kebun itu seperti bayang-bayang, dan seperti bayang-bayang dia mengitari
semak belukar.
Anak Sekolah itu
masih terbaring di rerumputan, di mana tadi Burung Bul-Bul meninggalkannya, dan
air mata di pelupuk mata indahnya belumlah kering.
“Bergembiralah,”
seru Burung Bul-Bul, “bergembiralah; engkau akan mendapatkan mawar merahmu. Aku
akan menciptakannya dari nyanyian di bawah sinar rembulan, dan melumurinya
dengan darah dari jantungku sendiri. Yang aku inginkan darimu hanyalah agar kau
tetap menjadi pecinta yang tulus, karena Cinta itu lebih bijaksana dari
Filsafat, meski dia bijak, dan lebih kuat dari Kekuatan, meski dia kuat. Sayapnya
berwarna bagai api, dan tubuhnya berwarna serupa api. Bibirnya semanis madu,
dan nafasnya seharum kemenyan.”
Anak Sekolah itu
menengadah, dan mendengarkan, namun dia tidak dapat memahami apa yang dikatakan
Burung Bul-Bul kepadanya, karena dia hanya mengetahui hal-hal yang tertulis di
buku.
Tapi Pohon Oak itu mengerti,
dan bersedih, karena dia sangat menyukai Burung Bul-Bul kecil yang membangun
sarang di cabangnya itu.
“Nyanyikan aku
sebuah lagu untuk terakhir kali,” bisiknya; “aku akan merasa kesepian jika nanti
engkau telah pergi.”
Lalu Burung Bul-Bul
bernyanyi untuk Pohon Oak, suaranya terdengar seperti gelembung air yang keluar
dari buli-buli perak.
Setelah dia selesai
bernyanyi, sang Anak Sekolah bangkit dan mengambil buku catatan kecil dan
pinsil arang dari dalam sakunya.
“Dia punya wujud
yang indah,” katanya pada diri sendiri, seraya berjalan menembus belukar – “itu
tak dapat dipungkiri; tapi apakah dia punya perasaan? Aku kira tidak. Bahkan,
dia mirip seperti seniman kebanyakan; hanya gaya yang dia miliki, tanpa ada
ketulusan. Dia tidak akan bersedia untuk mengorbankan dirinya untuk orang lain.
Dia hanya berpikir tentang musik, dan semua orang pun tahu kalau seni itu
egois. Namun tetap saja, harus diakui kalau dia memiliki nada yang indah dalam suaranya.
Sayang sekali semua itu tidak memiliki arti, pun tidak berguna.” Dan dia pergi
ke kamarnya, dan berbaring di atas kasur jerami kecilnya, dan mulai memikirkan
tentang pujaan hatinya; dan, setelah beberapa saat, dia tertidur.
Ketika Bulan
bersinar dari surga, Burung Bul-Bul pun terbang menuju Pohon Mawar, dan kemudian
menancapkan dadanya ke durinya. Sepanjang malam dia bernyanyi dengan dada yang
menancap di duri, Bulan yang dingin dan bening bersandar dan mendengarkan. Sepanjang
malam dia bernyanyi, dan duri itu menusuk dadanya semakin dalam dan semakin
dalam, dan darah-kehidupannya semakin surut meninggalkannya.
Pertama dia
bernyanyi mengenai berseminya cinta dalam hati seorang anak laki-laki dan
perempuan. Dan dari kuntum tertinggi dari Pohon Mawar itu bersemilah mawar yang
mengagumkan, kelopak demi kelopak, lagu demi lagu. Pucat, awalnya, seperti
kabut yang bergelayut di atas sungai – pucat seperti kaki pagi, dan keperakan
seperti sayap fajar. Seperti bayangan bunga mawar dalam cermin perak, seperti
bayangan bunga mawar dalam air kolam, seperti itulah bunga mawar yang mekar dan
bersemi di kuntum paling atas dari Pohon Mawar itu.
Tapi Pohon itu
berseru kepada Burung Bul-Bul untuk menekan lebih kuat. “Tekan lebih kuat,
Bul-Bul kecil,” kata Pohon, “atau Fajar akan menyingsing sebelum bunga mawar
ini selesai.”
Lalu Burung Bul-Bul
menekankan dadanya lebih dalam ke arah duri, dan nyanyiannya pun semakin keras
dan semakin keras, karena dia bernyanyi tentang berseminya gairah dalam jiwa
seorang pria dan seorang gadis.
Dan warna merah
muda samar-samar merona membasahi kelopak daun bunga mawar, merona seperti muka
mempelai pria ketika dia mengecup bibir mempelai wanita. Namun duri itu belum
menusuk jantungnya, sehingga jantung bunga mawar masih tetap berwarna putih,
karena hanya darah dari jantung Burung Bul-Bul lah yang dapat memerahkan
jantung sang bunga mawar.
Dan sang Pohon berteriak
kepada Burung Bul-Bul agar menekan lebih lebih kuat lagi. “Tekan lebih kuat
lagi, Bul-Bul kecil,” teriak Pohon, “atau Fajar akan menyingsing sebelum mawar
ini selesai.”
Kemudian Burung
Bul-Bul menekankan dadanya lebih dalam hingga duri menyentuh jantungnya, dan
rasa sakit yang tiba-tiba lalu menyengatnya. Getir, getirnya penderitaan, dan
semakin liar nyanyiannya, karena dia bernyanyi tentang Cinta yang disempurnakan
oleh Kematian, tentang cinta yang mati bukan di pusara.
Dan bunga mawar
yang mengagumkan itu menjadi sangat merah, seperti mawar dari langit rimur.
Merah sangat kelopaknya, dan merah sangat laksana ruby hatinya.
Namun suara Burung
Bul-Bul semakin melemah, dan sayap kecilnya terkepak, dan selaput tipis
membungkus matanya. Semakin lemah nyanyiannya, dan dia merasakan ada sesuatu yang
tersangkut di tenggorokkanya.
Lalu nyanyian
terakhirnya pun pecah. Bulan pucat mendengarnya, hingga dia lupa akan fajar,
dan tetap bergantung di langit. Mawar merah itu pun mendengarnya, dan dia
menggigil karena suka-cita, dan membukakan kelopaknya untuk udara pagi yang
dingin. Gema merambat ke dalam gua ungunya di atas bukit, dan membangunkan
gembala dari mimpinya. Mengapung-apung menembus alang-alang di sungai, dan
membawa pesan kepada samudera.
“Lihat, lihat!”
pekik Pohon, “bunga mawarnya telah selesai;” tapi Burung Bul-Bul tidak
menjawabnya, karena dia telah tergolek mati di rerumputan yang tinggi, dengan
duri yang menancap di jantungnya.
Dan siang itu, Anak
Sekolah membuka jendelanya dan melongok ke luar.
“Mengapa, sungguh
kebetulan yang hebat!” teriaknya; “mawar merah ini, tidak pernah aku melihat
mawar seperti ini sepanjang hidupku. Sungguh sangat indah, aku yakin dia punya
nama Latin yang panjang”; dia merunduk dan memetiknya.
Kemudian dia memakai
topinya, dan berlari ke rumah sang Professor dengan sekuntum mawar di
tangannya.
Anak perempuan sang
Professor sedang duduk di depan pintu memintal sutra biru, dan anjing kecilnya
sedang berbaring di dekat kakinya.
“Engkau bilang akan
menari denganku jika aku membawakanmu mawar merah,” kata Anak Sekolah. “Ini
mawar yang paling merah di seluruh dunia. Kamu akan memakainya di dekat hati
mu, dan ketika kita menari bersama, dia akan berkata betapa aku mencintaimu.”
Namun gadis itu
mengerutkan wajahnya.
“Sepertinya itu
tidak cocok dengan warna gaunku,” jawabnya; “dan selain itu, keponakan
Chamberlain telah mengirimkan kepadaku beberapa permata, dan semua orang tahu
bahwa permata lebih berharga daripada sekuntum bunga.”
“Tak ku sangka,
ternyata engkau sangat tak tahu terimakasih,” kata sang Anak Sekolah dengan
marah; dan dia melemparkan mawar merah itu ke jalan, yang kemudian jatuh ke
comberan, dan terlindas roda kereta.
“Tak tahu
terimakasih!” kata gadis itu. “dengar, kamu sangat kasar; dan, lagipula, siapa
kamu? Hanya seorang Anak Sekolahan. Aku bahkan ragu kalau engkau punya gesper
perak seperti yang dimiliki keponakan Chamberlain”; dan dia beranjak dari tempat
duduknya dan kemudian masuk ke dalam rumah.
“Sungguh Cinta itu
sesuatu yang sangat bodoh,” kata Anak Sekolah itu sambil berlalu. “Dia tidak
berguna, tidak setengahnya dari Logika, karena dia tidak membuktikan sesuatu,
dan dia selalu berkata tentang sesuatu yang tidak pernah akan terjadi, dan
membuat orang percaya hal-hal yang tidak benar. Bahkan sebenarnya, Cinta itu
tidak praktis, dan, di jaman ini, kepraktisan adalah segalanya, rasanya aku
akan kembali lagi ke Filsafat dan belajar Metafisik.”
Kemudian dia
kembali ke dalam kamarnya dan mengambil sebuah buku besar yang berdebu, dan
mulai membacanya.
----
Dialihbahasakan oleh Haru
April 2015
Senin, 20 April 2015
Ye eN We A'
Sejak awal
dekade 90an, suporter Liverpool Football Club (LFC) seperti dipaksa menghayati
bait pertama lagu kebangsaan mereka. Lagu yang ngajarin mereka tetap “mengangkat
kepala” di tengah badai sambil menangis berharap akan menemukan pelangi
di akhir perjalanannya. Dalam perjalanannya, para supporter LFC pun sempat
kembali bersemangat dan percaya bahwa mereka telah sampai pada cahaya yang
dijanjikan dalam lagu itu, “the golden
sky and the sweet silver song of the lark,” – munculnya pemain yang
menjanjikan (Gerrard, Owen, Torres, dll), menjuarai tropi FA, UEFA, European
Super Cup, dan yang paling legendaris adalah Liga Champion 2005. Tapi alih-alih
memasuki lagi masa keemasannya, LFC malah kembali medioker. Hih PHP!
Dulu,
mungkin kita masih bisa menepuk dada duo serigala dengan jemawa bahwasanya
LFC masih memegang rekor sebagai pemegang tropi Liga Inggris terbanyak, 19 buah.
Tapi sejak negara api menyerang klub-yang-punya-tetangga-yang-katanya-berisik
itu melewati raihan tropi LFC, dada siapa yang harus kita tepuk? Paling sekarang
senjata kita hanyalah “we won it five
times” yang membosankan terkenal itu. Dan dengan kegagalan LFC
meraih tiket Liga Champions, bukan tidak mungkin rekor itu bakal dilewati,
cepat atau lambat. Lagian sih bangga we
won it five times, harusnya sih lebih bangga we sholat five times. Betul? (red: baca dengan suara AA Gym).
Sekarang, beberapa
Senin kita dikacaukan oleh LFC. Di kantor, di sekolah, di pasar, di tempat
gosok akik, suporter LFC harus menahan perihnya pertanyaan yang sebenernya si
penanya itu pun tidak butuh jawaban; “Piye Liverpul?.” Responnya gimana? Ya banyak,
tergantung mz mz semua sukanya gimana, gak jawab tapi cemberut dan misuh dalam
hati boleh, dijawab sekenanya sambil melengos terus pergi ya boleh, diselesaikan
dengan main PS ya gapapa, apa mau diselesaikan di senayan juga monggo (tapi
twitwar dulu). Namun, sebagai insan yang mengimplementasikan nilai-nilai
keliverpulan yang luhur, saya mau usul salah satu cara menjawabnya. Yaitu dengan
YNWA... ya Ye eN We A..... alias Yo Ndhes
Wasyuog, Andaikan....... “Andaikan”
memang kata yang mujarab, bisa buat ngeles dengan tidak terlihat rendah diri. “Andaikan” mengisyaratkan bahwa kita tahu
lebih tentang pertandingan LFC, bahwa kita tahu apa yang salah dengan LFC, dan
bahwa kita kelihatan tadi malem nonton pertandingannya walaupun sebenernya
cuman nonton extended highlights-nya di
goalsarena atau footyroom. Nah setelah kata “andaikan” itu boleh diisi dengan beberapa alternatif di bawah ini.
Pertanyaan musim lalu: “Piye
Liverpul, gak sido juara?”
Alternatif
jawaban:
“Yo Ndhes,
Wasyuog, Andaikan Gerrard ora Kepleset”
Ya, insiden
yang terjadi saat melawan klub-yang-katanya-punya-sejarah-tapi-supporternya-sampai-harus-disiapin-bendera-plastik-dan-yang-nyuruh-staff-nya-mengibarkan-banner-saat-pertandingan
ini memberikan gelar Slippy G kepada Stevie G dan merupakan highlight dari musim lalu – bahkan lebih
diingat daripada penampilan fantastis Suarez.
atau “Yo Ndhes
Wasyuog, Andaikan pas kae Kolo Toure ora salah umpan ke Anichebe”
Anichebe
gak ada hubungannya sama Anisa Chibi lho (suog, garing). Menit ke 66, LFC
mempimpin 1 gol atas West Bromwich Albion, tidak tau Toure kesurupan apaan atau
dia susah melihat Aly Cissokho karena gelap tiba-tiba dia memberikan
umpan diagonal langsung kepada Anichebe. Dan Jebret! Ilang 2 poin LFC. Ya
walaupun kalau menang juga poin akhirnya sama dengan tetangganya- klub-yang-punya-tetangga-yang-katanya-berisik
sih, tapi kita masih bisa menambah daftar kambing hitam dengan kata
“.... opo
meneh andaikan Allen ngegolke lawan klub-yang-tujuannya-berada-di-atas-peringkat-LFC”
Dan kita
dapat tambahan 2 poin lagi, sehingga alibi kita makin kuat bahwa andaikan Toure
dan Allen tidak blunder, LFC bisa juara. Tapi ya itu.... andaikan....
Pertanyaan musim ini: “Piye,
Liverpul kalah (meneh)?”
Alternatif jawaban:
“Yo Ndhes,
Wasyuog, Andaikan Markovic umpane bener terus Sterling iso ngegolke”
Versi
andaikan ini adalah ketika LFC melawat ke Emirates Stadium. Tapi seandainya
Sterling bisa menjangkau umpan Marko, apa iya LFC jadi gak kalah? Yo mbuh...seng
penting alesan dhisik!
“Yo Ndhes,
Wasyuog, Andaikan wasite ora picek!”
Ya ini
alasan paling gampang. Menyalahkan wasit. Ada beberapa insiden meragukan yang
apabila wasit jeli, keputusannya tidak akan bias ke tim lawan LFC. Seperti pas
gol offside nya klub-yang-punya-tetangga-yang-katanya-berisik,
atau yang paling mutakhir yaitu ketika malam tadi striker ter-sangar LFC gagal
mengantarkan koran eh gagal menjadi pahlawan karena gol-nya dianulir padahal
nggak offside. Wasite dibayar og....... yo mesti, mosok gratisan mz.
Begitulah
tips and trik dari saya, tentunya anda bisa lebih kreatif lagi menambahkan
alibi lain sesuai dengan kebutuhan, atau bahkan mengganti kata “wasyuog” dengan
kata lain, “wuasyem” contohnya. Selamat menerapkan tips dan trik ini, semoga
kita semua menjadi kaum yang menerapkan nila-nilai keliverpulan dengan khidmat
dan konsisten.
Salam Ye eN
We A’ – Yo Ndhes, Wasyuog, Andaikan pelatihe dudu Rojers #eh
![]() |
Senin, 23 Maret 2015
He lost the footing…. and his head
“He lost his head, and launched it into Materazzi’s chest”
You know what I am talking about; an infamous incident in
the final night of 2006 World Cup. A legend finished his time in such a way
nobody will ever forget. In a final of the most prestigious tournament in the
world, Zidane finished the game, and also his playing career, by headbutting
the chest of Materazzi. Latter he revealed that the reason of his outrageous act
is Materazzi insulted his mother and sister. In the end, France lost to Italy
on Penalties. The story might have ended differently had Zidane not lost his
temper.
![]() |
| the infamous headbutt |
![]() |
| Zidane leaving the pitch, the cup, and the career |
Last night, in a
match ordained as the derby with most cards in England, a legend, to his people
at least, was supposed to play his 33 derbies in a worth-remembered-manner. In fact,
his last derby is worth-remembered, but not in the manner every Kopite would ever
imagine, in the wildest even. His presence in the end of the tunnel at the
beginning of the second half, with the captain armband, raised hope of every
Kopite at Anfield that night. With the team trailing by a goal, against the
fiercest rival, the charisma of a captain is surely an oasis in the middle of a
dessert. But, nobody, even the supporter at the other end, expected what
happened next. Gerrard’s time in the field lasted just 40 seconds short. A red
card for intentionally stepping on the right leg of Ander Herrera ended his
supposedly last North West Derby. Kopites can say it was harsh decision, that
the referee got it wrong, that it was unfair, but at the end of the day we can
all agree that such challenge has no place in football, and always will produce
red card, except if it was Diego Costa, maybe.
![]() |
| the stomp that stop his shortcoming |
![]() |
| you're out!!! |
Zidane’s conduct may be unacceptable to some, but there are
people who understand and defend him. Zidane stood for the honor of his mother
and sister. He took the possible worst punishment as a professional because he
believed that nobody should disparage his mother and sister; a belief that most
people would agree on. He maybe lost his chance to hold the highest team prize
a football player could achieve, but he sure not lost respect for the principle
he hold. The Coup de tête statue initially erected in Centre Pompidou, France is the obvious
proof.
![]() |
| Coup de tête |
Gerrard reaction, in the other hand, was, according to his
former team mate Carragher, result of his frustration. Frustration of seeing
the team trailing, frustration of losing the automatic place in the squad,
and maybe frustration over the fact that
he will end his last season mostly in the bench. That was very human, but that
doesn’t make his conduct less unacceptable. For a player of his caliber, in the
game of that importance, he should know how much the stake was put.
Unlike Zidane, Gerrard has time make up for his mistakes, to
save his magnificent career as a redman. That match maybe was his last
North-West Derby, but hopefully that was not his last match with LFC. And by
then his professional career ends, whether in USA or in England, I hope we can
see the statue of Gerrard stand, not the statue of his stomping Herrera, but the
statue of one of his greatest time in LFC.
Jumat, 13 Februari 2015
Hiro
Kamis, 12 Februari 2015, 22.18
WIB
Malam itu, seperti malam yang
biasanya, aku menonton siaran ulang sepakbola di televisi dan istriku sibuk
meninabobokkan anakku yang belakangan ini suka tidur sangat larut. Hingga
sebuah ketukan pelan terdengar, diikuti pintu kamar yang membuka sedikit. “Mbak…eeemmm”
suara pengasuh anakku terdengar agak bergetar. “Ada apa…” Tanya istriku sambil
tetap memeluk anakku yang hampir tertidur. “Mbak…saya mau ijin pulang….adik
saya mbak..kecelakaan…” suara pengasuh anakku tercekat. “Dia meninggal mbak….” kemudian
tangispun meledak.
Aku dan istriku langsung beranjak
dari tempat tidur, anakku bahkan ikut terbangun. Berita ini begitu mendadak, di
tengah malam begini. “Aku tadi marahin dia, nyuruh dia pulang mbak…karena bapak
lagi sakit… aku yang nyuruh mbak…” ratap pengasuh anakku sambil tersedu. Aku terduduk
gemetar di tepi tempat tidur. Ini adalah sebuah keadaan yang sangat aku benci,
sesuatu yang mendadak, datang tiba-tiba. Bibirku bergetar, mata dan pipi terasa
hangat, aku bisa merasakan betapa besar sesal yang dirasakan oleh pengasuh
anakku itu. Sementara istriku masih menenangkan mbak pengasuh anakku – dan juga
anakku yang ikut terbangun -, aku beranjak dari tempat tidur, tiba-tiba aku
ingin cuci muka. Di dalam kamar mandi aku terduduk, rongga dadaku terasa
menciut, sangat sesak. Sudah 10 menit aku ada di dalam kamar mandi, aku pun
segera membasuh muka, kemudian menyekanya dengan handuk yang masih menggantung
di cantelan baju. Aku keluar dari kamar mandi, ruang tengah terlihat gelap,
rupanya lampu sudah dimatikan. Aku buka pintu kamar, terlihat istriku tertidur
lelap, wajahnya terlihat lelah, di sampingnya, anakku pun sudah tertidur dengan
tengkurap – posisi favoritnya – dengan dot yang masih menempel di mulutnya. Aku
pun merebahkan badanku di kasur, menarik selimut, dan kemudian melanjutkan
menonton siaran ulang Piala Asia 2014, kedudukan 2 -2 antara Irak dan UAE. Suasana sangat tenang, seperti biasanya, seperti malam kemarin, dan malam-malam sebelumnya. Tidak ada hal besar yang terjadi.
Kamis, 12 Februari 2015, 14.27
WIB
“Lho mas kok di rumah…” Tanya pengasuh
anakku ketika melihatku keluar dari kamar mandi. “Iya…” jawabku singkat. “Tapi saya
nggak liat mas masuk rumah….” Tanya pengasuh anakku; penasaran. “Iya mbak…
nggak usah dipikirin… saya mau ngomong dikit sama mbak…” jelasku.
“Mbak…bapak kamu sakit, tapi
sudah pulang dari rumah sakit, dia nggak mau bikin khawatir mbak makanya dia
nggak bilang sama mbak…juga sama adik mbak…”
“lho mas…tapi……”
“sik tho mbak….tak ngomong dulu…..
nanti orang rumah bakal ngabari mbak…. Pesen saya mbak, jangan suruh adik mbak
yang lagi kuliah buat pulang ke rumah …. Pokoknya jangan mbak….. biarin dia di
kosannya dulu, nanti weekend bisa pulang…tapi jangan sekarang ya mbak…. Inget lho….
Ini penting mbak”
“tapi mas….nganu…. kok…”
“wis tho mbak…. Percaya sama aku
yo…. Inget… jangan marahin adikmu, jangan suruh adikmu pulang malam ini….. yo!”
Mbak pengasuh anakku terlihat
bingung, namun dia terdiam walaupun terlihat bahwa dia ingin sekali bertanya.
Aku bergegas; setelah melongok
sebentar ke dalam kamar untuk melihat anakku yang sedang tidur siang, aku
kemudian kembali masuk ke dalam kamar mandi.
Kamis, 12 Februari 2015, 22.48
WIB
“Pah… gimana ni, kita cari
penerbangan yang paling pagi kali ya….” Suara istriku terdengar dari arah dapur.
Aku terjaga dari lamunanku. “Iya mah, ntar aku cari di traveloka…..” jawabku
sambil meraih handuk dan menyeka mukaku. Aku keluar dari kamar mandi, di ruang
tengah, anakku sedang duduk sambil bermain dengan buku kesukaannya, istriku
masih merangkul mbak pengasuh anakku yang menunduk sambil sesekali menyeka
matanya yang basah.
“Ah…andai aku ini Hiro, si penjelajah
waktu…”
Selasa, 23 Desember 2014
Indonesia Haibat
Nuwun sewu, perkenalkan namaku Paijo. Dari bahasa dan namaku,
pasti njenengan sudah tau tho kalau aku itu orang desa dan asal nya dari Jawa
Tengah, atau yang sering njenengan orang Ibu Kota sebut sebagai Jawa. Padahal
yo orang Jakarta itu secara geografis yo sama, orang Jawa juga, tapi yo wis
ben, kan njenengan lebih berpendidikan dari aku. Aku ini baru datang dari
kampung ke Jakarta. Ternyata kata orang-orang kampung kalau Indonesia sudah
maju itu bener…..yo paling tidak Jakarta. Lha iya tho, Jakarta kan Ibu Kota
Indonesia; kalo ibarat rumah yo ruang tamune Indonesia. Ruang tamu itu kan kudu
apik, kudu bagus, ben ndhak keliatan saru dilihat orang luar, masalah dapurnya
kotor sih ya urusan nanti.
Indonesia itu pembangunannya sudah maju. Coba lihat di
Jakarta ini, bangunannya sudah bagus bagus; tinggi-tinggi, megah-megah.
Orang-orang yang ada di gedung gedung itu juga nggantheng dan ayu ayu. Mereka itu
orang yang sibuk sekali, jalannya cepet-cepet, naik kendaraan pun cepet-cepet
sampe ndhak punya waktu berhenti di lampu merah. Lha nek berhenti di lampu
merah sing suwine ngono, ntar telat masuk kantor; nek telat masuk kantor ngko
kerjanya terhambat, ndhak produktif kalo kata mereka; nek ndhak produktif,
kantornya rugi; nek kantor rugi, bisa tutup kantornya; nek kantor nanti banyak
yang tutup , perekonomian negara runtuh; yo nanti akibatnya ditanggung
kita-kita semua. Lha opo ora penting kuwi.
Hebat tenan orang orang Jakarta ini. Di Jakarta itu banyak orang kaya, banyak
orang punya kendaraan uapik uapik. Makane aku ke Jakarta. Aku kepengen kaya
mereka itu, bisa kerja pake pakeyan rapi, pake dasi, naiknya mobil. Wuah, mbois
to!
Di Indonesia, kemerdekaan iku hak setiap orang. Aku lihat di
Jakarta ini ya, orang itu bebas banget mau ngapa ngapain. Lho coba lihat, buang
sampah bebas di mana mana; mau ngerokok juga terserah di mana saja; nyeberang
jalan yo sekarepmu. Bebas merdeka to? Wong wong sing setiap Agustus sukanya
nanya, “Apakah Indonesia sudah merdeka?” Iku wis jelas gak pernah hidup di
Jakarta.
Wis tho, Indonesia, diwakili Jakarta, itu sudah sangat maju
dan berbudaya.
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)




