Kalau ngomong masalah lagu yang berkesan, hanya satu lagu yang mampir di ingatan. "More Than Word". Mainstream sih, tapi ada beberapa alasan lain yang bikin saya inget terus lagu ini.
Ceritanya agak cinta cintaan sik. Gapapa ya. Jadi dulu saya nembung mbak-yang-sekarang-jadi-ibu-dari-anak-saya pake lagu ini. Technically nggak nyanyi sih, tapi saya nggitar doang.
Sore itu saya dan temen temen main PS saya sudah mengatur sedemikian rupa agar ba'da maghrib mbak inceran saya itu dikondisikan berada di beranda kosannya. Sebelumnya saya, dibonceng temen saya tentunya, udah pergi beli bunga mawar, setangkai doang 2.500 rupiah. Ngirit. Hehehe.
Di waktu yang sudah ditentukan, datanglah saya dan teman saya dengan menyamar jadi pengamen (sumpah ini ide sok asik banget). Saya nggitar more than words, temen saya tepuk tepuk doang karena dia gak apal lagunya. Kalau saya yang nyanyi ntar ketahuan, lagian nanti dia ilfeel denger suara saya. Kan repot. Waktu si mbaknya ngasih uang, saya membuka penyamaran... Jeng jeeeeeng... Sambil bawa mawar 2.500 perak. Long story short, so mbak nya sekarang udah jadi mamanya anak saya.
Dan setelah saya ingat ingat, saya belajar nggitar More Than Words itu dari cowok yang ternyata suka sama mbak nya itu. Hehehehehe. Sampai sekarang, temen temen kuliah suka nge-ceng-in saya masalah lagu itu.
Kamis, 16 Juni 2016
Rabu, 08 Juni 2016
Apa Itu, Cinta?
Syahdan, di malam
minggu sehabis hujan, dua sejoli terlihat berjalan beriringan dengan tangan
saling terpaut; menyusuri jalan setapak yang terlihat seperti terowongan karena
dipayungi rimbun pohon di kanan kirinya. Rangga dan Cinta, nama keduanya,
adalah sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara.
“Apa….. Itu…… Cinta?”
tanya Rangga, sembari mengayun kakinya melalui genangan air di tepi jalan.
Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang sangat luas, beribu kalimat tidak akan mampu
menjawabnya, namun Cinta sadar, Rangga adalah seorang yang sangat nyastra, maka dia tahu kalau Rangga
mengharapkan jawaban yang juga nyastra.
“Ia mengerling.
Ia ketawa
Dan rumput kering terus menyala
Ia berkata. Suaranya nyaring tinggi
Darahku terhenti berlari”
Ia berkata. Suaranya nyaring tinggi
Darahku terhenti berlari”
Cinta menyitir puisi
Chairil Anwar. “Cinta itu yang membakar dan terus menyala, dan yang membuat
darahku berhenti berlari saat mendengar suaramu.”
Rangga terdiam, tidak
bereaksi. Seolah jawaban Cinta hanyalah gemerisik daun pohon ara yang diterpa desau
angin malam.
“Mungkin jawabanku
kurang memuaskan, baiklah, mungkin aku harus mengutip perkataan dari tokoh
asing, biar terlihat lebih edgy”
Cinta membatin.
“Love is an untamed force. When we try to control it,
it destroys us. When we try to imprison it, it enslaves us. When we try to
understand it, it leaves us feeling lost and confused; itu kata Coelho!”
Rangga tetap
terdiam, bahkan kali ini mukanya terlihat pucat. Cinta bingung, mungkinkah
Rangga tidak paham bahasa Inggris yang dia katakan, bahkan Cinta pun
sebenarnya bingung.
“Aaaapa…. Ittttuuu….
Cintttaaaa…. “ Akhirnya Rangga membuka suara, dengan terbata.
“Ya itu tadi, masa
harus aku ulang lagi sih!!!” Cinta mulai kesal.
“BBuuukkkaaaan…..”
“Terus apa? Yang
jelas dong…. Jangan kaya cewek!!!!” Hardik Cinta.
“Ittuuu…
Apppaa… Itttuuuu…. Cinttttaaa….. Itttuuuu … Yang…. Di atas…. Pppooohhhhoooonnnn….
“ Rangga setengah berteriak sambil menunjuk dahan pohon Ara di depannya.
Cinta
mendongak ke atas melihat ke dahan pohon Ara, dan melihat sosok dengan rambut
panjang menjuntai sedang mengayunkan kakinya sambil duduk di dahan.
Dan merekapun
berdua Pingsan.
PS: Maaf ya..... Tema arisan blognya susah soalnya heuheuheu
Selasa, 31 Mei 2016
Tentang Menikah dan Cinta (a cringe-worthy title indeed)
Tema: Jika kamu boleh
memilih. Kamu lebih menginginkan untuk menikahi orang yang kamu cintai, atau
mencintai orang yang kamu nikahi.
Agak susah, nerjemahin maksudnya juga nulisnya. Oke, mungkin maksudnya
gini, asumsikan kamu belum nikah dan jikalau kamu harus menikah, kamu bakal
milih orang yang kamu cintai untuk dinikahi atau kamu bakal milih orang yang,
walaupun nggak kamu benci, nggak kamu cintai dengan harapan nanti kalau udah
nikah kamu bisa belajar mencintai dia. Tambah susah dipahami? Emang sengaja.
Kalau pilihan saya sih, saya bakal milih menikahi orang yang saya
cintai. Kenapa? Karena saya nggak pinter bohong. Saya nggak bisa membohongi orang
yang mau saya nikahi kalau ternyata saya tuh nggak mencintai dia. Saya nggak
mendewakan cinta, tapi saya realistis. Menikah, buat saya merupakan pilihan
yang penting; dan pilihan harus memiliki sebuah dasar. Mungkin dasar bagi orang
lain bisa berbeda, tapi buat saya salah satu dasar yang penting adalah suka,
atau cinta (whichever you like to call it). Menikahi orang yang saya cintai
juga berarti mencintai orang yang saya nikahi.
Yang saya pahami dari “mencintai orang yang kamu nikahi”di tema yang
diajukan di atas, adalah sebelum menikah kamu nggak cinta sama pasangan yang
akan kamu nikahi tapi nanti setelah nikah akan belajar mencintai dia, begitu? Emang
bisa ya? Mungkin bisa, mungkin juga tidak. Kalau kamu bisa, good for you, and
your spouse; kalau tidak bisa, good luck living your rest of marriage that is made
of bricks of lie.
Satu hal lagi yang penting selain saya harus mencintai orang yang akan
saya cintai adalah orang yang saya mau nikahi haruslah orang yang mencintai
saya. Because it takes two to tango.
Selasa, 24 Mei 2016
PAGI ITU
Nafasnya terengah,
keringat sebulir jagung meleleh di dahi; Rokhim terbangun dari tidurnya. Sudah
tiga malam berturut-turut mimpi yang sama membuat dia terbangun dini hari. Di
sampingnya, Inah, istrinya, menggeliat sambil menarik selimut yang sudah turun
ke kaki. Rokhim hendak membangunkannya, namun kemudian dia mengurungkan niat
itu.
Pagi itu seperti
biasa, sebelum berangkat ke kantor, Inah selalu menyiapkan sarapan untuk Rokhim
dan Rohman, anak semata wayang mereka. Hari ini, hari pertama Rohman masuk
kelas 6 SD. Sarapan sudah tersedia di meja makan, namun belum ada seorangpun
yang menduduki kursinya. Semenjak beberapa bulan belakangan, keluarga ini
memang jarang memiliki waktu sarapan bersama. Sejak surat PHK diterimanya,
Rokhman hanya bangun pagi untuk menikmati kopi hitam kesukaannya lalu melanjutkan
tidur lagi. Sarapan yang disediakan oleh Inah biasanya akan dimakan nanti agak
siang.
Sambil mengaduk kopi
pahit kesukaan suaminya, Inah melongok mencari keberadaan orang-orang. Kamar
tidurnya kosong, Rokhim sudah bangun rupanya. Rohman pun tidak tampak terlihat
di manapun. Dengan menenteng cangkir, Inah masuk ke dapur mencari keberadaan
suami dan anaknya.
Prang!!!! Suara cangkir
beradu dengan lantai keramik memecah kesunyian pagi di dalam rumah itu. Inah
terkulai lemas bersender di kusen pintu dapur. “Ini perintah Tuhan, Inah.
Perintah Tuhan yang Dia berikan dalam mimpiku!….. anak kita pasti masuk surga!”
Hening sesaat, sebelum
kemudian tangis Inah meledak.
Rabu, 11 Mei 2016
Lho Kok? Oh Ya Udah Deh
Hubungan kami sudah
hambar. Kami di sini adalah saya dan teman sekolah yang watu itu jadi pacar
saya. Sedikit flashback, namanya
Nisa, saya kenal dia karena satu kelas di kelas satu SMP, dan kelas dua, dan
kelas tiga. Iya, kami bareng terus kelasnya waktu SMP. Pas SMA pun kami walau satu sekolahan, tapi nggak pernah satu kelas. Kuliah? Satu kota. Pasti pada mau
bilang takdir atau jodoh kan? Enggak, kayaknya dia yang ngikutin saya sih
hehehehe. Kepedean. Kami resmi berpacarannya pas kami udah kuliah.
Waktu itu, tidak tahu sudah
berapa lama kami berpacaran karena saya emang orangnya gak suka itung itungan
alias susah inget angka, saya merasa hubungan saya dan Nisa sudah tidak asik. Pokoknya
rasanya udah habis chemistry kami. Jadi saya kemudian punya ide untuk berkesperimen
(disambung sambungin sama tema arisan). Saya ingin sekedar menarik diri sebentar
dari dunia perpacaranan; saya mau berak eh break dulu; istirahat sebentar nanti
kalau udah kangen lagi bisa lanjut.
Tibalah saat kami
mudik bareng naik bis kota. Dengan dag dig dug der daia (apalah ini) akhirnya
saya bilang ke Nisa “eh gimana kalau kita break dulu.” Dari gelagatnya sih
kayaknya dia juga ngerasa hal yang sama, kepengen istirahat dulu karena jenuh
kemudian kalau chemistry muncul kami bisa balikan lagi….. kayaknya. Tapi
jawaban dia tidak terduga. “Aku harus traktir temen kos ku kalo gitu” katanya. “Eh
lho kok, kenapa?” saya heran. “Iya
soalnya dulu waktu kita jadian, aku nggak traktir temen kos ku, dan jadinya mereka
minta traktir kalau kita putus.” (TEMEN MACAM APA ITU!!!) saya melongo sebentar
dan akhirnya paham, kalau si Nisa menerjemahkan break sebagai putus, which is
nggak salah sih emang.
Dan akhirnya, di atas
bus Semarang – Pemalang itu kami officially balik lagi jadi temen. Eh sebenernya
dulu juga tetep temen si. Ya balik lagi jadi tidak pacaran maksudnya.
Kamis, 05 Mei 2016
Pertama
Yang pertama adalah yang paling susah - ya, seperti mengawali tulisan ini. Namun, yang pertama biasanya membekas lama. In a good or bad way. Seperti orang-orang biasa lainnya, saya juga punya "saat pertama". Beberapa yang saya ingat antaranya:
1. Pertama kali naik pesawat
Dibesarkan sebagai orang Turki, alias Turunan Kidul (désa saya di bagian selatan Kabupatèn Pemalang), saya harus menempuh jarak cukup jauh untuk bersekolah, setidaknya saat SMP dan SMA. Semua itu membuat saya harus menggunakan bermacam moda transportasi untuk pergi ke sekolah; bus, mobil carry bukaan, dan kadang ojek. Mengenal kereta api pun saat kuliah. Naik pesawat terbang? Tak pernah sedikitpun terlintas di pikiran saya.
Dan kali pertama itu pun tiba. Saya, saat itu seorang CPNS, ditugasi untuk menjadi liaison officer untuk sebuah acara di Bali. Jadilah saya harus naik pesawat terbang dari Jakarta ke Bali. Saya ingat saat itu saya memilih berangkat ke bandara bersama sama dengan rekan kerja, karena saya nggak tau yang harus dilakukan saat mau naik pesawat terbang. Saya naik pesawat Lion Air waktu itu. Penerbangan pertama saya sungguh tidak enak. Sepanjang perjalanan kepala dan telinga saya sakit sekali. Belakangan saya tau itu disebabkan oleh tekanan udara. Kepala saya masih sakit saat mendarat di Ngurah Rai, dan hingga saya tidur.
2. Pertama kali berenang
Di desa saya ada sebuah dam kecil di sungai yang biasa digunakan anak anak untuk mandi. Untuk ukuran anak anak, dam itu cukup dalam. Saya yang tidak bisa berenang tak pernah berani bermain di situ. Paling saya cuma berani bermain di sungai sebelahnya yang kedalamannya hanya sebatas jidat saya, kalau saya tengkurap. Suatu hari saya diajak kakak sepupu saya untuk berlatih berenang di dam itu. Karena gengsi, akhirnya saya mau. Tapi di sana saya cuman pura pura kedinginan sambil nangkring di batu. Sampai kakak sepupu saya akhirnya mendorong saya sampai nyebur ke dam. Sejak saat itu saya tidak belajar berenang lagi.
Hingga pas kuliah, waktu itu hari Sabtu, jadi saya tidak ada kelas, teman sekosan mengajak berenang di kolam renang dekat pantai di Semarang sana. Sekali lagi, atas nama gengsi, saya menyanggupi. Namun ternyata, di kolam renang itulah saya menyadari bahwa saya bisa berenang. Sungguh, tiba tiba saya bisa ngambang dan bergerak maju, ya walau semeter dua meter. Dan di sana pula saya sadar saya bisa ngambang sambil terlentang. Nggak tau kenapa. Tapi saya syukuri saja.
Saat itu lah pertama kali saya tau bahwa saya agak bisa berenang dan juga sadar bahwa berenang seharian di bawah terik matahari bikin kulit hidung, pundak, dan punggung bisa terbakar dan sakitnya semingguan.
3. Pertama kali menikah
Kali pertama saya menikah, dan saya harap jadi kali yang terakhir.
1. Pertama kali naik pesawat
Dibesarkan sebagai orang Turki, alias Turunan Kidul (désa saya di bagian selatan Kabupatèn Pemalang), saya harus menempuh jarak cukup jauh untuk bersekolah, setidaknya saat SMP dan SMA. Semua itu membuat saya harus menggunakan bermacam moda transportasi untuk pergi ke sekolah; bus, mobil carry bukaan, dan kadang ojek. Mengenal kereta api pun saat kuliah. Naik pesawat terbang? Tak pernah sedikitpun terlintas di pikiran saya.
Dan kali pertama itu pun tiba. Saya, saat itu seorang CPNS, ditugasi untuk menjadi liaison officer untuk sebuah acara di Bali. Jadilah saya harus naik pesawat terbang dari Jakarta ke Bali. Saya ingat saat itu saya memilih berangkat ke bandara bersama sama dengan rekan kerja, karena saya nggak tau yang harus dilakukan saat mau naik pesawat terbang. Saya naik pesawat Lion Air waktu itu. Penerbangan pertama saya sungguh tidak enak. Sepanjang perjalanan kepala dan telinga saya sakit sekali. Belakangan saya tau itu disebabkan oleh tekanan udara. Kepala saya masih sakit saat mendarat di Ngurah Rai, dan hingga saya tidur.
2. Pertama kali berenang
Di desa saya ada sebuah dam kecil di sungai yang biasa digunakan anak anak untuk mandi. Untuk ukuran anak anak, dam itu cukup dalam. Saya yang tidak bisa berenang tak pernah berani bermain di situ. Paling saya cuma berani bermain di sungai sebelahnya yang kedalamannya hanya sebatas jidat saya, kalau saya tengkurap. Suatu hari saya diajak kakak sepupu saya untuk berlatih berenang di dam itu. Karena gengsi, akhirnya saya mau. Tapi di sana saya cuman pura pura kedinginan sambil nangkring di batu. Sampai kakak sepupu saya akhirnya mendorong saya sampai nyebur ke dam. Sejak saat itu saya tidak belajar berenang lagi.
Hingga pas kuliah, waktu itu hari Sabtu, jadi saya tidak ada kelas, teman sekosan mengajak berenang di kolam renang dekat pantai di Semarang sana. Sekali lagi, atas nama gengsi, saya menyanggupi. Namun ternyata, di kolam renang itulah saya menyadari bahwa saya bisa berenang. Sungguh, tiba tiba saya bisa ngambang dan bergerak maju, ya walau semeter dua meter. Dan di sana pula saya sadar saya bisa ngambang sambil terlentang. Nggak tau kenapa. Tapi saya syukuri saja.
Saat itu lah pertama kali saya tau bahwa saya agak bisa berenang dan juga sadar bahwa berenang seharian di bawah terik matahari bikin kulit hidung, pundak, dan punggung bisa terbakar dan sakitnya semingguan.
3. Pertama kali menikah
Kali pertama saya menikah, dan saya harap jadi kali yang terakhir.
Senin, 18 April 2016
Meja dan Kepribadian
Setelah hiatus
selama beberapa waktu, akhirnya arisan nge-blog dimulai lagi. Artinya, saya punya
motivasi lagi untuk mencorat-coret halaman blog ini. Motivasinya ya biar nggak
disuruh traktir anggota arisan gara-gara tidak nulis di blog. Yah, kadang
materi, baik penambahan maupun pengurangan, memang motivasi yang cukup efektif
hehehe.
Kali ini tema arisannya adalah my workspace. Awalnya bingung juga
bagaimana mulainya. Tapi setelah menarik diri sejenak dari kehidupan fana
dengan bertapa dalam posisi bhujangasana
kemudian saya mendapat pencerahan dari Jai
Guru Deva mengenai hubungan antara workspace
(yang saya kerucutkan menjadi meja kerja)
dengan pribadi seseorang. Cekidot:
i.
Meja kerja yang tidak berantakan
Pemilik meja kerja yang tidak
berantakan adalah orang yang cenderung suka keteraturan. Mereka rapi dan runut
dalam menyimpan barang kepunyaannya. Biasanya, dalam keseharian, mereka tidak
suka sesuatu yang tidak rapi.
ii.
Meja kerja yang tidak rapi
Pemilik meja kerja ini adalah tipe orang yang tidak suka kehilangan waktu untuk menata mejanya. Mereka, secara sadar maupun tidak, akan menaruh barang di manapun dia suka. Orang dengan meja kerja yang tidak rapi kebanyakan memiliki prinsip ”meja aing kumaha aing.”
iii. Meja kerja dengan foto
Ada beberapa jenis foto, itu juga
menentukan pribadi si empunya meja. Saya tulis dua aja ya, ide nya mentok, eh
maksudnya si Jai Guru Deva baru kasih
pencerahan tentang dua jenis ini.
-
Foto keluarga
Dengan meja kerja yang berisi foto
keluarga, dapat dilihat bahwa pemiliknya merupakan orang yang tidak takut untuk
untuk melakukan komitmen dengan lawan jenisnya dalam menjalani kehidupannya
yang fana. Orang dengan meja kerja ini juga merupakan orang yang tidak takut
akan resiko memiliki mertua.
-
Foto artis/idola
Ini mah jomblo, kalau enggak ya om-om beristri
yang masih suka sama dedek dedek gemes tapi gak berani masang foto idolanya di
rumah.
iv.
Meja kerja berisi panci, mangkok, sendok, garpu,
ladle
Ya itu sih meja abang tukang bakso.
Langganan:
Postingan (Atom)