Jumat, 13 Februari 2015

Hiro

Kamis, 12 Februari 2015, 22.18 WIB

Malam itu, seperti malam yang biasanya, aku menonton siaran ulang sepakbola di televisi dan istriku sibuk meninabobokkan anakku yang belakangan ini suka tidur sangat larut. Hingga sebuah ketukan pelan terdengar, diikuti pintu kamar yang membuka sedikit. “Mbak…eeemmm” suara pengasuh anakku terdengar agak bergetar. “Ada apa…” Tanya istriku sambil tetap memeluk anakku yang hampir tertidur. “Mbak…saya mau ijin pulang….adik saya mbak..kecelakaan…” suara pengasuh anakku tercekat. “Dia meninggal mbak….” kemudian tangispun meledak.

Aku dan istriku langsung beranjak dari tempat tidur, anakku bahkan ikut terbangun. Berita ini begitu mendadak, di tengah malam begini. “Aku tadi marahin dia, nyuruh dia pulang mbak…karena bapak lagi sakit… aku yang nyuruh mbak…” ratap pengasuh anakku sambil tersedu. Aku terduduk gemetar di tepi tempat tidur. Ini adalah sebuah keadaan yang sangat aku benci, sesuatu yang mendadak, datang tiba-tiba. Bibirku bergetar, mata dan pipi terasa hangat, aku bisa merasakan betapa besar sesal yang dirasakan oleh pengasuh anakku itu. Sementara istriku masih menenangkan mbak pengasuh anakku – dan juga anakku yang ikut terbangun -, aku beranjak dari tempat tidur, tiba-tiba aku ingin cuci muka. Di dalam kamar mandi aku terduduk, rongga dadaku terasa menciut, sangat sesak. Sudah 10 menit aku ada di dalam kamar mandi, aku pun segera membasuh muka, kemudian menyekanya dengan handuk yang masih menggantung di cantelan baju. Aku keluar dari kamar mandi, ruang tengah terlihat gelap, rupanya lampu sudah dimatikan. Aku buka pintu kamar, terlihat istriku tertidur lelap, wajahnya terlihat lelah, di sampingnya, anakku pun sudah tertidur dengan tengkurap – posisi favoritnya – dengan dot yang masih menempel di mulutnya. Aku pun merebahkan badanku di kasur, menarik selimut, dan kemudian melanjutkan menonton siaran ulang Piala Asia 2014, kedudukan 2 -2 antara Irak dan UAE. Suasana sangat tenang, seperti biasanya, seperti malam kemarin, dan malam-malam sebelumnya. Tidak ada hal besar yang terjadi.

Kamis, 12 Februari 2015, 14.27 WIB

“Lho mas kok di rumah…” Tanya pengasuh anakku ketika melihatku keluar dari kamar mandi. “Iya…” jawabku singkat. “Tapi saya nggak liat mas masuk rumah….” Tanya pengasuh anakku; penasaran. “Iya mbak… nggak usah dipikirin… saya mau ngomong dikit sama mbak…” jelasku.

“Mbak…bapak kamu sakit, tapi sudah pulang dari rumah sakit, dia nggak mau bikin khawatir mbak makanya dia nggak bilang sama mbak…juga sama adik mbak…”
 “lho mas…tapi……”
“sik tho mbak….tak ngomong dulu….. nanti orang rumah bakal ngabari mbak…. Pesen saya mbak, jangan suruh adik mbak yang lagi kuliah buat pulang ke rumah …. Pokoknya jangan mbak….. biarin dia di kosannya dulu, nanti weekend bisa pulang…tapi jangan sekarang ya mbak…. Inget lho…. Ini penting mbak”
“tapi mas….nganu…. kok…”
“wis tho mbak…. Percaya sama aku yo…. Inget… jangan marahin adikmu, jangan suruh adikmu pulang malam ini….. yo!”

Mbak pengasuh anakku terlihat bingung, namun dia terdiam walaupun terlihat bahwa dia ingin sekali bertanya.
Aku bergegas; setelah melongok sebentar ke dalam kamar untuk melihat anakku yang sedang tidur siang, aku kemudian kembali masuk ke dalam kamar mandi.

Kamis, 12 Februari 2015, 22.48 WIB

“Pah… gimana ni, kita cari penerbangan yang paling pagi kali ya….” Suara istriku terdengar dari arah dapur. Aku terjaga dari lamunanku. “Iya mah, ntar aku cari di traveloka…..” jawabku sambil meraih handuk dan menyeka mukaku. Aku keluar dari kamar mandi, di ruang tengah, anakku sedang duduk sambil bermain dengan buku kesukaannya, istriku masih merangkul mbak pengasuh anakku yang menunduk sambil sesekali menyeka matanya yang basah.

“Ah…andai aku ini Hiro, si penjelajah waktu…”


Selasa, 23 Desember 2014

Indonesia Haibat

Nuwun sewu, perkenalkan namaku Paijo. Dari bahasa dan namaku, pasti njenengan sudah tau tho kalau aku itu orang desa dan asal nya dari Jawa Tengah, atau yang sering njenengan orang Ibu Kota sebut sebagai Jawa. Padahal yo orang Jakarta itu secara geografis yo sama, orang Jawa juga, tapi yo wis ben, kan njenengan lebih berpendidikan dari aku. Aku ini baru datang dari kampung ke Jakarta. Ternyata kata orang-orang kampung kalau Indonesia sudah maju itu bener…..yo paling tidak Jakarta. Lha iya tho, Jakarta kan Ibu Kota Indonesia; kalo ibarat rumah yo ruang tamune Indonesia. Ruang tamu itu kan kudu apik, kudu bagus, ben ndhak keliatan saru dilihat orang luar, masalah dapurnya kotor sih ya urusan nanti.

Indonesia itu pembangunannya sudah maju. Coba lihat di Jakarta ini, bangunannya sudah bagus bagus; tinggi-tinggi, megah-megah. Orang-orang yang ada di gedung gedung itu juga nggantheng dan ayu ayu. Mereka itu orang yang sibuk sekali, jalannya cepet-cepet, naik kendaraan pun cepet-cepet sampe ndhak punya waktu berhenti di lampu merah. Lha nek berhenti di lampu merah sing suwine ngono, ntar telat masuk kantor; nek telat masuk kantor ngko kerjanya terhambat, ndhak produktif kalo kata mereka; nek ndhak produktif, kantornya rugi; nek kantor rugi, bisa tutup kantornya; nek kantor nanti banyak yang tutup , perekonomian negara runtuh; yo nanti akibatnya ditanggung kita-kita semua. Lha opo ora penting  kuwi. Hebat tenan orang orang Jakarta ini. Di Jakarta itu banyak orang kaya, banyak orang punya kendaraan uapik uapik. Makane aku ke Jakarta. Aku kepengen kaya mereka itu, bisa kerja pake pakeyan rapi, pake dasi, naiknya mobil. Wuah, mbois to!

Di Indonesia, kemerdekaan iku hak setiap orang. Aku lihat di Jakarta ini ya, orang itu bebas banget mau ngapa ngapain. Lho coba lihat, buang sampah bebas di mana mana; mau ngerokok juga terserah di mana saja; nyeberang jalan yo sekarepmu. Bebas merdeka to? Wong wong sing setiap Agustus sukanya nanya, “Apakah Indonesia sudah merdeka?” Iku wis jelas gak pernah hidup di Jakarta.


Wis tho, Indonesia, diwakili Jakarta, itu sudah sangat maju dan berbudaya. 

Selasa, 16 Desember 2014

Juice a Review

 


Stop it, I know what you’re thinking, and I was thinking the same when I first saw it at a grocery store. But, unfortunately, no,  it is not the infamous mangosteen peels, it is a mangosteen juice.  Without further thinking, I asked my wife to buy it for the sake of trying the taste of mangosteen juice. Never in my wildest imagination that somebody would put mangosteen in a blender and squeeze the juice out of it.


But then, it let me down. It tasted nowhere near how a mangosteen tastes. It was more like lychee but with a bit of bitter flavor. Actually, mangosteen does taste a bit bitter, but this just somehow failed to bring out that mangosteen-esque flavor. Is it juice me or that this really is a mangosteen peels juice? But the bottle says it is a mangosteen juice! Ah it is not always "what juicy is what you got," is it? 

*Haru, would you please stop making that pun!

Selasa, 09 Desember 2014

CCC (Childhood Celebrity Crush)

This week themes for “Arisan Blog” can be predictable for me. With “first celebrity crush” as the current theme, my friends could name several celebrities that I would write for this blog, from Im Yoona to Beby JKT48.  They are not wrong, but also, at the same time, not right. My celebrity crush could be dated back when I was still elementary school kid. As a television-addict kid, falling into a celebrity charm was my everyday risk. Luckily, at that time, there were many programs for kids and consequently there were also many kid actors and actresses. Therefore, I didn’t look up to far older celebrity as my idol, or you can say “crush,” thankfully. Most of my celebrity crushes were, more or less, at my age.

Enno Lerian

This little girl was captivating for her sweet and cute smile. Her notable songs among others were “Si Nyamuk Nakal”  and “Dakocan.” But my adoration stopped when I knew that she got pregnant. 
Teenager Enno
Mommy Enno


Erina GD

Erina Gracesita Dharmawan. There, I even remember her full name without “googling” for it. She was one of “4 MC Cilik” members. The music video of that 4 MC Cilik was usually came up in a show for kids called Tralala Trilili. I waited for it every afternoon to see her. And at Saturday afternoon, I always watched Pesta Ceria, a kid show in which Erina was one of the MCs. Once I was very pissed because I could not watch the show for my TV was broken. Hehehe. As Erina getting older and older, her stars in showbiz world dimmed. And now she is a married woman with a kid.
Here's Erina with her fellows MC Cilik, Erina is the one on the right side.
Erina is palying in one of that Sinetorn Naga Terbang 


Agnes Monica


Who doesn’t know her? This go-international girl is a big hit. Her voice, her moves, and her dedication are second to none. But I like her more when she were still a cute little girl in ponytails. 


Lil' cute Agnes
the go-international Agnes
Actually, the list I gave you just now is a bit of a mainstream. Those three could easily go into a list of idols for most of 90's kids. 

Oh, one funny thing is that when I was browsing their name for this post, I run into this link, in which it included all those three names in a quite interesting article.


Senin, 01 Desember 2014

Shit Happens…and when you are ndlomor, triple shits may happen

Jumat pagi itu, saya kudu cekat-ceket. Selain menyiapkan keperluan ke kantor, saya juga harus ngepak tas dan bungkusan untuk perjalanan nanti malam. Rencananya, nanti sore selepas jam kantor saya akan langsung naik kereta senja tujuan Semarang karena di hari Sabtu-nya saya diundang untuk hadir di pernikahan teman. Tas dan semua perlengkapan siap, dan saya pun berangkat ke kantor yang cuma berjarak sekitar 10 menit jalan kaki dari kosan. Setelah di kantor, baru sadar, ada satu bungkusan yang lupa saya bawa. ASU! sudah saya siapin semalaman, eh gak kebawa. Tapi sebenernya this is normal, karena saya memang tidak pernah lupa mengakrabi lupa. Bahkan, saya akan curiga ketika saya merasa tidak lupa melakukan atau membawa sesuatu. Ya sudahlah masih ada waktu, toh keretanya nanti sore. Nanti saya ambil bungkusannya pas jam istirahat.

Jam 12 siang, pas matahari kaya di ubun-ubun, saya pulang ke kosan, jalan kaki. Di tengah perjalanan saya sempat melihat Lucky Luke sedang menggoreng telor ceplok di atas batu. Setelah sepuluh menit terpanas itu akhirnya saya telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan …. Lho lho jadi UUD si hehehe… maksudnya saya sampai di depan pintu gerbang kosan saya. Habis mengusap peluh yang bercucuran di jidat, saya rogoh-rogoh saku celana, rogoh kanan, rogoh kiri, rogoh belakang, bahkan saya rogoh saku kemeja saya. Jidat yang habis saya usap pun berkeringat lagi. ASU!! kunci gerbang ketinggalan di tas, tas saya ada di kantor. Terpaksa sekali saya putar balik ke kantor lagi, melewati neraka jalanan Jakarta siang hari. Dan saya lihat Lucky Luke masih menggoreng telur ceploknya,kali ini untuk si Jolly Jumper, kudanya! Saking panasnya saya pun nggak sempat mikir emang kuda doyan telor ceplok.

Dengan kunci gerbang di tangan, saya gontai berjalan menuju kosan sekali lagi. Dan sekali lagi saya lewati Lucky Luke yang masih menggoreng telor, bahkan lebih banyak telor. Mungkin untuk Dalton bersaudara. Sampai di kosan, saya tidak berlama-lama, bungkusan yang tertinggal saya ambil, saya langsung balik lagi menuju kantor. Kali keempat saya lewat jalan kosan-kantor di siang ini saya tidak melihat lagi Lucky Luke sedang menggoreng telor. Tapi di tempat tadi Lucky Luke menggoreng telor sekarang ada kios kecil tulisannya “Telor Goreng Luke, 100% halal, menerima delivery, call: 081782LUKE”


Sepanjang perjalanan tadi, tidak terhitung berapa kali saya misuh. Ya sudah lah, yang penting bungkusan yang ketinggalan sudah saya ambil. Dan hari di kantor pun berjalan seperti biasa. Sampai pada jam pulang, saya langsung bergegas keluar kantor. Telpon NJ karena saya janjian berangkat bareng ke Semarang. Dan tak lupa mencegat ojek. Jam keberangkatan kereta cukup dekat dengan jam pulang kantor saya, makanya saya harus bergegas naik ojek biar nggak ketinggalan kereta dan nggak dimarahi NJ. Sukses dapet ojek, saya langsung nangkring di jok belakang “bang ikutin mobil itu!!! Eh anu, maksudnya ke stasiun Senen bang.” Di tengah abang ojeknya ngebut “waduh!!!”……… “Kenapa mas?”……. “nggak bang, nggak papa” *di dalam hati ASUUUU!!!! Bungkusan yang tadi siang ketinggalan di kantor.   

Selasa, 18 November 2014

Cerita Waktu Muda

“Mati gue” adalah kata-kata pertama yang terlontar ketika mendengar hasil dari kocokan arisan blog buat minggu ini. Betapa tidak, topik minggu ini adalah “first crush.” Sungguh sebuah topik yang sangat tidak bersahabat untuk orang yang sudah masuk golongan ganda campuran, nggak single lagi. Kalian mah enak wahai Yessika, Niwa, Iin….menceritakan nostalgia puppy love unyu-unyu dengan enteng. Saya rasa mereka ngetiknya sambil tengkurap di kasur, di depan laptop, senyum –senyum kecil, pipinya merona, dan kadang-kadang guling-gulingan sambil geli mengingat keluguan masa kecil mereka.  Lha saya….. ngetiknya penuh tekanan, kaya sedang  diawasin sama istri sambil dia menimang-nimang penggiling roti. Padahal mah keluarga kami nggak punya penggiling roti. Tapi kemudian saya denger suara dari sebelah kiri telinga saya yang membisikkan “wis tulis ae…lanang pora kowe?” saya pun mengangguk setuju, namun tiba-tiba di telinga kanan saya ada yang berbisik “iki dudu masalah lanang po ora…iki masalah sesuk kowe turu njaba opo turu njero.” Daaaan lenyaplah keberanian saya nulis tentang first crush saya.

Tapi tantangan adalah tantangan. Harus dihadapi. Oke lah, di bawah ancaman penggiling roti imajiner dan resiko tidur di luar, saya kembali menuliskan pengalaman puppy love saya.  Date back to my childhood, sebenernya di masa-masa Taman Pendidikan Al-Quran saya pernah mengidolakan salah satu guru ngaji saya. Tapi nggak sampai menjadikan dia oshi sih. Belakangan, setelah saya sudah besar, saat saya sudah tau bagaimana sepak terjang beliau, hilang lah rasa idolisasi (uopoooh iki) saya ke beliau. Maju sedikit ke masa saya kelas enam SD, saya juga pernah suka sama seorang pramuka dari SD lain yang saya temui di Perkemahan Bulan Agustus. Beberapa waktu kemudian saya mendengar kabar kalau dia “kecelakaan” dalam tanda petik….dan wuusss hilanglah rasa suka saya. Kemudian saya memasuki masa SMP. Saya masuk ke kelas 1.C dan di sanalah saya bertemu dengan seorang cewek yang di kemudian hari akan menjadi bahan ejekan oleh temen-temen kuliah saya. (Lho kok iso Ru? ---- Yo makane diwoco terus ngko tak critake, ojo crigis…). Namanya Nisa, dia berkerudung, rambutnya panjang. (lho kok iso ngerti rambute dowo? Kan jilbaban? ----- sik to…cen cah crigis og kowe!). saya tau dia berambut panjang karena saya melihat pas photo-nya dia. Singkat kata saya jatuh hati sama dia, tapi, berhubung saya dulu adalah anak cupu…ya sampai sekarang juga cupu sih… saya tidak pernah nembung dia. Padahal kami tiga tahun selalu satu kelas pas SMP. Ketika SMA pun kami satu sekolah, walaupun tidak pernah satu kelas bareng. Selama enam tahun di sekolah, sebenernya kami sama-sama tahu tentang perasaan kami masing-masing, tapi mungkin sebagai cewek dia nunggu saya untuk nembung, tapi sayanya malah leda-lede ndak karuan karena tidak punya nyali. Hubungan kami sebatas saling pinjam-meminjam kaset The Moffats saja…bahkan ngobrol saja kami awkward… Oh iya saya pernah dikasih kaset Britney Spears album yang pertama, pas dia masih lucu-lucu nggemesin gitu, inget kan? Pasti inget lah ya hehehe. Bahkan pas SMA itu saya pernah berpacaran sepihak, tapi bukan sama Nisa. Waini…. bisa jadi side story nih….ntar saya ceritain deh ya di bawah kenapa bisa sepihak.

Lulus dari SMA, kami kebetulan (?) kuliah di kota yang sama, walaupun beda Universitas. Dan saya akhirnya berani nembung, saya lupa sih kapan, bagaimana, dan di mana tepatnya. Namun, kemudian lama-lama saya merasa bosan, dan saya berniat untuk break dulu. Maksud saya sih break sebentar sampai waktu yang tidak ditentukan tapi Nisa beranggapan lain, dia mengartikan kalau saya minta putus. Saya masih ingat betul, waktu itu kami lagi dalam perjalanan mudik dari Semarang naik bus. Di dalam bus saya memberanikan diri untuk bilang “eh kayaknya kita break dulu deh” yang dijawab langsung oleh Nisa “hhmmm yaudah, tapi aku harus traktir temen kos nih.” “lho kenapa?” Tanya saya. “Karena dulu waktu kita jadian, aku gak sempet traktir, jadi mereka minta traktir kalau pas kita putus.” Di situlah saya sadar kalau saya salah ngomong, tadinya minta time out sebentar tapi diartikan putus… baiklah saya pun akhirnya menyanggupi. Jadi kami resmi putus, tapi saya kadang masih dolan ke kos dia, walaupun sudah tidak berpacaran, silaturahmi harus tetap dijaga dong… betul nggak jamaah? Eee jamaaaaaah…alhamdu?....lillaaaaah…. (apa dah Ru…). Naaahh…. Cerita kenapa saya diejek karena Nisa ini dimulai. Jadi ya, kan saya tidak bisa naik motor, sedangkan jarak kosan saya dengan Nisa jauh banget, maka kalau saya mau dolan saya mengajak teman saya, yang cukup akrab, untuk mboncengin saya. Kawan saya ini jomblo, setelah putus dari pacarnya yang satu Universitas dengan Nisa. Jadi dulu waktu ngapel pun kadang kita bareng berangkatnya hehehe. Waktu itu saya sudah mulai pedekate sama cewek yang sekarang jadi mamahnya anak saya. Pada suatu hari, kawan akrab saya tiba-tiba Tanya, “Ru kalau aku SMSan sama Nisa gapapa kan?” “Lho ya gapapa….memang kenapa?” jawab saya. Ya, ternyata mereka sudah tukeran nomer HP dan sering SMSan. Long story short, akhirnya Nisa jadian sama kawan akrab saya itu, dan inilah yang jadi sebab kenapa saya diejek sama temen-temen kuliah saya. Saking akrabnya sampai pacar aja gantian, begitu kata mereka. Begitulah, cerita tentang …uumm bukan first crush sih, tapi pacar pertama lebih tepatnya. Eh nggak juga ding, kan ada pacaran sepihak yang tadi saya janji ceritain ya hehehe.

Begini nih ceritanya, jadi dulu saya pas kelas dua SMA punya temen sekelas yang naksir berat sama saya. Sering banget dia memberikan sinyal-sinyal asmara, menunjukkan bahwa dia suka sama saya. Tapi dasarnya saya cupu, saya tidak pernah nembung dia, walaupun saya tau dia suka. Ya mungkin karena saya merasa dia tidak menimbulkan reaksi kimia. Sampai pada suatu hari saat kami kelas 3, saya main ke kelas dia, setelah ngobrol-ngobrol tiba-tiba dia bilang “eh Ru, pacaran yuk” saya langsung jawab “ayo…” karena saya kira dia cuma bercanda. Habis itu pun kami masih tetep ngobrol biasa. Hingga pada keesokan harinya, ada seorang temen yang nanya “Ru kamu jadian sama Mita?” “heh? Kata siapa?” saya balik tanya. “Tadi dia ngomong ke aku” balas temen saya. “Ah nggak….becanda” kata saya. Dan hari-hari setelah itu pun berjalan, tapi tidak terjadi sesuatu yang spesial antara kami. Hingga pada suatu hari, Mita dateng ke kelas saya, dia bilang “Ru kayanya kita putus aja, aku nggak boleh pacaran dulu sama orang tua ku.” Saya hampir saja menjawab “emang kita pacaran ya?” tapi saya urungkan, bisa dilempar pot bunga nanti. Secara diplomatis saya menjawab “yaudah kalo gitu.” Di saat itu saya baru sadar, ternyata dia serius waktu ngajakin pacaran, tapi saya malah becanda. Jahat banget ya.    




P.S. : this is weird.... sesaat setelah saya post tulisan ini, tiba tiba ada chat facebook masuk....guess what siapa yang chat? dia adalah kawan akrab saya dulu itu, yang sekarang sudah jadi suami Nisa (iya lupa saya cerita ya...Nisa dan temen saya itu sudah menikah, dikaruniai satu anak, dan Desember ini akan bertambah lagi anaknya hehehe)

Senin, 10 November 2014

Just Another Service Provided by Your Friendly Neighborhood

Merah biru pakaian yang dikenakannya
Web-shooter senjata andalannya,
Yang kekuatannya melebihi manusia biasa
Yang membuat para perusuh lari takut akan dirinya
Peter Parker, pemuda gagah perkasa
Yang mempunyai kekuatan super

Saya hafal sekali potongan lirik lagu rap ini yang, setelah saya google, katanya dinyanyikan oleh grup rap P-Squad.  Dari liriknya sudah pasti ketebak dong lagu ini adalah sound track film apa; merah biru, web-shooter, dan Peter Parker adalah hints yang lebih dari cukup untuk menebak. Yap, Spider-Man adalah tokoh fiksi superhero yang saya favoritkan. Seingat saya dulu ada serial kartun Spider-Man yang ditayangkan di RCTI sore hari. Serial itulah yang membuat saya menyenangi tokoh superhero ini.

Peter Parker adalah remaja nerdy yang akibat digigit laba-laba laboratorium jadi memiliki kekuatan dan sifat-sifat alamiah laba-laba. Pada versi kartun yang saya ingat, Peter Parker hanya diwarisi kemampuan “nempel di dinding” dan “spider sense” sementara jaring laba-laba dan pelontar jaringnya adalah hasil kreasi dari Peter yang jenius. Digambarkan kalau jaring laba-labanya direkayasa sedemikian rupa sehingga bisa kuat seperti serat baja namun akan lumer dalam hitungan jam, karena kalau tidak begitu, maka kota akan direpotkan dengan sampah bekas jaring laba-laba si wall-crawler yang suka gelantungan di gedung-gedung.  Alat pelontar jaring tersebut pun adalah hasil kreasi Peter yang kadang bisa macet di tengah-tengah aksi Spider-Man membasmi kejahatan.  Salah satu hal yang membuat saya tertarik dengan Spider-Man adalah celotehan kocak saat bertarung dengan musuh-musuhnya. Dia selalu “bercanda” bahkan saat dia melawan musuh yang sangat kuat. Itulah yang jadi ciri khas si web-face ini. Peter Parker, seorang kutu buku pendiam dan anak yang susah bergaul, seperti menemukan sisi lain dirinya yang humoris, sarkastik, dan konyol  saat berada di balik topeng jaring. Tapi bukankah sebagian besar manusia memang begitu, cenderung menampakkan “jati dirinya” ketika “bertopeng.” (halah malah ngelantur hehehe).

Tapi sebagai a self claimed Spider-Man fan, saya merasa gagal karena saya tidak mengikuti jalan cerita Spider-Man versi komiknya. Saya bukannya tanpa usaha, tapi sudah lama saya googling tentang di mana bisa didapat komik Spider-Man, yang gratis tentunya; namun sangat sulit sekali. Jadi apabila di antara pembaca blog ini ada yang mempunyai informasi atau bahkan mempunyai komik Spider-Man lengkap sudi dan berbaik hati untuk meminjamkan kepada saya? hehehe