Selasa, 24 Mei 2016

PAGI ITU

Nafasnya terengah, keringat sebulir jagung meleleh di dahi; Rokhim terbangun dari tidurnya. Sudah tiga malam berturut-turut mimpi yang sama membuat dia terbangun dini hari. Di sampingnya, Inah, istrinya, menggeliat sambil menarik selimut yang sudah turun ke kaki. Rokhim hendak membangunkannya, namun kemudian dia mengurungkan niat itu.

Pagi itu seperti biasa, sebelum berangkat ke kantor, Inah selalu menyiapkan sarapan untuk Rokhim dan Rohman, anak semata wayang mereka. Hari ini, hari pertama Rohman masuk kelas 6 SD. Sarapan sudah tersedia di meja makan, namun belum ada seorangpun yang menduduki kursinya. Semenjak beberapa bulan belakangan, keluarga ini memang jarang memiliki waktu sarapan bersama. Sejak surat PHK diterimanya, Rokhman hanya bangun pagi untuk menikmati kopi hitam kesukaannya lalu melanjutkan tidur lagi. Sarapan yang disediakan oleh Inah biasanya akan dimakan nanti agak siang.

Sambil mengaduk kopi pahit kesukaan suaminya, Inah melongok mencari keberadaan orang-orang. Kamar tidurnya kosong, Rokhim sudah bangun rupanya. Rohman pun tidak tampak terlihat di manapun. Dengan menenteng cangkir, Inah masuk ke dapur mencari keberadaan suami dan anaknya.

Prang!!!! Suara cangkir beradu dengan lantai keramik memecah kesunyian pagi di dalam rumah itu. Inah terkulai lemas bersender di kusen pintu dapur. “Ini perintah Tuhan, Inah. Perintah Tuhan yang Dia berikan dalam mimpiku!….. anak kita pasti masuk surga!”


Hening sesaat, sebelum kemudian tangis Inah meledak.

2 komentar:

  1. Ga nyangka haru bisa sesadis ini bikin tulisan...*inget kasus cangkul

    BalasHapus